FIFA telah menyetujui penerapan aturan baru yang secara informal dikenal sebagai "Undang-Undang Vinicius Junior", sebagai respons terhadap meningkatnya sorotan terhadap kasus rasisme dalam sepak bola, khususnya yang melibatkan bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Aturan ini direncanakan akan diterapkan menjelang Piala Dunia 2026.
Nama Vinicius dan Real Madrid menjadi perbincangan hangat setelah pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melakukan pelecehan rasial terhadap Vinicius. Insiden tersebut diduga terjadi pada pertandingan babak play-off Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica dan saat ini masih dalam penyelidikan UEFA. Akibatnya, UEFA menjatuhkan skorsing kepada Prestianni yang membuatnya absen pada leg kedua.
FIFA dan International Football Association Board (IFAB) mengambil langkah tegas dalam memerangi rasisme dengan melarang pemain menutup mulut saat berbicara kepada lawan. Larangan ini mencakup penggunaan jersey, tangan, atau benda lain untuk menutupi mulut ketika berinteraksi di lapangan.
Aturan baru ini disepakati dalam Sidang Terbaru IFAB dan akan difinalisasi sebelum Piala Dunia 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat upaya melawan rasisme di sepak bola. Real Madrid diperkirakan akan menyambut baik langkah ini, mengingat dukungan mereka terhadap Vinicius selama proses penyelidikan UEFA terhadap Prestianni.