Fitch dan Moody’s Beri Outlook Negatif, Apa Artinya Bagi RI?

Fitch Ratings dan Moody's menurunkan outlook atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, memicu kekhawatiran di pasar keuangan.

Keputusan Fitch Ratings dan Moody's Investors Service menurunkan outlook kredit atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif menimbulkan kekhawatiran di pasar keuangan. Walaupun peringkat utang Indonesia masih investment grade, perubahan ini dianggap sinyal awal peningkatan risiko ekonomi.

Dalam dunia keuangan, outlook negatif menjadi peringatan dini potensi penurunan rating. Jika terjadi, biaya pinjaman pemerintah bisa naik dan kepercayaan investor tergerus.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai perubahan outlook menunjukkan ekonomi Indonesia mendapat sorotan serius.

"Perubahan outlook rating utang RI artinya ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Yang disorot kan kemampuan negara membayar bunga utang, ada pemborosan anggaran terutama MBG. Selain itu keberadaan Danantara justru jadi beban ekonomi baru," kata Bhima kepada detikcom, Sabtu (7/3/2026).

Bhima menjelaskan, perubahan outlook adalah tahap awal penurunan peringkat kredit. Konsekuensinya bukan hanya dirasakan pemerintah, tetapi bisa merembet ke sektor keuangan.

"Setelah perubahan outlook, biasanya ada penurunan rating. Bunga utang pemerintah makin mahal. Kalau investor sudah turun kepercayaan nya bisa krisis ekonomi," ujarnya.

Menurut Bhima, masyarakat akan merasakan dampak berupa biaya pinjaman yang lebih tinggi dan tekanan harga.

"Bunga pinjaman bank naik, KPR mahal, mau beli motor jadi ditunda dulu. Barang lebih mahal. PHK massal, kemiskinan naik. Pemerintah makin berburu pajak di kebun binatang," katanya.

Bhima mengingatkan Indonesia memasuki fase peringatan dari lembaga pemeringkat global. "Sudah mulai lampu kuning, karena begitu turun peringkat akan jadi obligasi sampah," tambahnya.

Pelaku pasar menantikan keputusan S&P Global Ratings pada pertengahan tahun ini.

"Standard and Poors lembaga rating yang paling dinantikan, bulan Juli akan umumkan rating Indonesia. Proyeksi nya akan di downgrade. Investor asing sudah mulai mengurangi porsi kepemilikan di SBN," jelasnya.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menilai penurunan outlook tidak bisa diabaikan. Menurutnya, ada kesamaan kekhawatiran lembaga internasional terkait kebijakan ekonomi Indonesia.

"Alasan di balik penurunan outlook dari rating Indonesia itu yang sangat-sangat perlu harus dijadikan perhatian. Karena banyak kemiripan dan banyak yang concern-nya itu sejalan ya, senada. Mulai dari masalah kata kelola fiskal, defisit fiskal melebar, kemudian sampai kepada Danantara, keberadaan Danantara untuk menggencet perekonomian, tapi pada saat yang sama itu juga membatasi ruang gerak daripada swasta, dan juga sekali lagi masalah tata kelola dan akuntabilitas," ujarnya.

Faisal menyatakan, sorotan tertuju pada kondisi fiskal dan persepsi investor terhadap stabilitas dan independensi institusi ekonomi.

"Itu menjadi satu sorotan, termasuk diantaranya bagaimana apa yang terjadi beberapa waktu terakhir terkait dengan Bank Indonesia yang sebetulnya sorotan terhadap independensinya, termasuk juga di OJK, dan of course juga yang terjadi di pasar modal," katanya.

Sinyal dari lembaga internasional adalah peringatan bagi pemerintah untuk memperbaiki kebijakan.

"Itu sebagai satu warning dan itu persepsi daripada investor yang sebetulnya, yang ngomong bukan satu lagi tapi sudah banyak mulai dari MSCI, Moody's, kemudian sekarang Fitch," ujar Faisal.

Jika kekhawatiran tidak direspons, penurunan rating bisa berdampak luas pada iklim investasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.

"Artinya itu yang perlu diperbaiki, itu sebagai mereka katakan bahwa kalau tidak ada perbaikan maka ini akhirnya nanti akan diturunkan rating-nya. Kalau rating-nya sudah turun berarti akan ada permasalahan lebih besar terhadap iklim investasi di Indonesia dan prospek terhadap rupiah karena ini mempengaruhi capital flow," jelasnya.

Faisal menambahkan, tekanan rupiah di tengah kondisi fiskal yang memburuk bisa memperbesar risiko ekonomi, apalagi dengan tekanan global.

"Kalau rupiah sudah tertekan pada saat fiskal juga sedang memburuk, lalu juga perekonomian global menekan domestik bukan hanya dari perdagangan tapi juga dari kenaikan harga minyak berpotensi invasi dan lain-lain yang ini yang dikhawatirkan bisa memperburuk kondisi ekonomi. Sehingga itu harus direspon secara serius itu, yang menjadi catatan merah dari outlook negatif dari Indonesia itu," tutupnya.

Recommended