Kisah Franck Ribery: Bekas Luka Wajah Bentuk Karakter Bintang Bayern Munchen

Perjalanan karier Franck Ribery, salah satu pemain sayap terbaik, diwarnai kisah pilu kecelakaan masa kecil yang membentuk karakter kuatnya.

Franck Ribery, sosok yang dikenal sebagai salah satu pemain sayap terbaik dalam sejarah sepak bola, memiliki karier gemilang dihiasi banyak trofi dan aksi memukau di lapangan. Namun, di balik kesuksesan tersebut, terdapat kisah pilu yang turut membentuk karakter kuatnya, terutama bekas luka di wajah yang menjadi ciri khasnya, seperti dilansir dari Bola.

Pada masa keemasannya, Ribery tampil luar biasa, baik di level klub maupun timnas. Bersama Bayern Munchen, ia menjadi ikon klub, khususnya melalui duet legendarisnya dengan Arjen Robben yang dijuluki "Robbery". Berbagai gelar bergengsi berhasil diraih, termasuk trofi Liga Champions pada tahun 2013.

Dalam sebuah wawancara dengan Canal Sports+, yang dikutip dari Mirror, Ribery membagikan cerita masa kecilnya yang penuh cobaan. Ia tidak pernah bertemu orang tua kandungnya setelah ditinggalkan di depan sebuah biara saat masih bayi. Cobaan berlanjut saat berusia dua tahun, ketika Ribery mengalami kecelakaan mobil serius yang mengubah hidupnya secara permanen.

Dalam insiden tersebut, mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan truk. Akibat tidak mengenakan sabuk pengaman, tubuh kecil Ribery terpental menembus kaca depan kendaraan. Peristiwa itu mengakibatkan luka parah di wajahnya, sehingga ia harus menjalani sekitar 100 jahitan.

Bekas Luka sebagai Motivasi

Ribery mengakui masa kecilnya tidak mudah karena bekas luka di wajahnya sering menjadi bahan ejekan. "Orang-orang berkata: 'Lihat wajahnya, lihat kepalanya. Apa itu bekas luka? Jelek sekali.' Ke mana pun saya pergi, orang-orang selalu menatap saya. Bukan karena saya orang baik atau karena nama saya Franck atau karena saya pemain bagus, tetapi karena bekas luka itu," ungkapnya.

Meskipun demikian, ia memilih untuk melihat sisi positif dari pengalaman pahit tersebut. "Mereka memberi saya karakter dan kekuatan. Karena ketika Anda masih kecil dan punya bekas luka seperti ini, itu tidak mudah. Cara orang melihat Anda, komentar-komentar mereka, keluarga saya juga ikut merasakan. Yang berbicara tentang Anda adalah orang tua anak-anak lain, dan itu sangat kejam. Saya tidak pernah bersembunyi di sudut dan menangis, meskipun saya menderita," lanjutnya.

Dalam wawancara lain, Ribery bahkan menyatakan bahwa kecelakaan tersebut menjadi sumber motivasinya. "Dengan cara tertentu, kecelakaan ini membantu saya. Saat kecil, itu memotivasi saya. Tuhan memberi saya perbedaan ini. Bekas luka ini adalah bagian dari diri saya, dan orang-orang harus menerima saya apa adanya," katanya.

Puncak Karier dan Perjalanan Internasional

Perjalanan karier Ribery tidak instan. Ia sempat berpindah-pindah akademi di Prancis sebelum mendapatkan kesempatan besar bersama Galatasaray pada tahun 2005. Tidak lama kemudian, ia bergabung dengan Marseille dan mulai menarik perhatian berkat kemampuan dribel serta kreativitasnya. Pada tahun 2007, ia direkrut oleh Bayern Munchen, klub yang menjadi panggung utama dalam kariernya.

Selama 12 tahun membela Bayern, Ribery berperan penting dalam meraih berbagai gelar, termasuk Bundesliga, Piala Jerman, dan Liga Champions. Meskipun sering dilanda cedera, ia tetap menjadi salah satu pemain dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah klub. Ia mengakhiri karier profesionalnya setelah sempat memperkuat Fiorentina dan kembali ke Salernitana, tempat ia kini berkecimpung sebagai bagian staf teknis di usia 43 tahun.

Di level timnas, Ribery melakukan debut bersama Timnas Prancis pada tahun 2006 dan langsung menjadi pemain penting. Ia turut membawa timnya mencapai final Piala Dunia 2006, meski harus puas sebagai runner-up. Perannya semakin besar setelah mundurnya pemain senior seperti Zinedine Zidane dan Thierry Henry. Meskipun perjalanan internasionalnya sempat diwarnai kontroversi di Piala Dunia 2010, Ribery meminta maaf atas situasinya sebelum akhirnya pensiun dari timnas pada tahun 2014.

Recommended