Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, menyoroti fenomena krisis nalar kritis dalam sistem pendidikan Indonesia pada forum Ngkaji Pendidikan di Yogyakarta, Jumat, 9 Mei 2026. Ia menilai peningkatan jumlah sekolah dan sarjana belum berbanding lurus dengan kemampuan berpikir mendalam siswa.
Kesenjangan kualitas ini terlihat dari data PISA 2022 yang menunjukkan skor literasi, matematika, dan sains pelajar Indonesia tertinggal hingga 120 poin dari rata-rata global. Berdasarkan laporan Medcom, kondisi ini diperparah dengan temuan PIAAC OECD yang menyebut literasi sarjana di Jakarta setara lulusan SMP di negara maju.
Rizal mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tren "Schooling Without Learning" di mana proses belajar hanya menjadi rutinitas mekanis tanpa refleksi. Sistem pendidikan saat ini dinilai terlalu mengandalkan hafalan sehingga mencetak lulusan yang bertindak secara autopilot atau tanpa kesadaran penuh.
"Padahal, masa depan pendidikan seharusnya adalah melatih kesadaran," ujar Muhammad Nur Rizal, Pendiri GSM. Ia mengusulkan penerapan teknik metakognisi atau "Saklar Kognitif" guna melatih nalar kritis siswa agar tidak sekadar memberikan respons impulsif dalam proses pembelajaran.
Data BPS menunjukkan jumlah institusi pendidikan di Indonesia melonjak drastis dari 100 ribu pada tahun 1970-an menjadi 300 ribu pada 2020. Meskipun jumlah sarjana kini mencapai 1,3 juta jiwa per tahun, tingkat perundungan siswa justru mencapai 41 persen, melampaui rata-rata global sebesar 23 persen.
Forum ini dihadiri oleh sekitar 500 tenaga pendidik dari berbagai wilayah Indonesia di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya. Para guru yang hadir melakukan refleksi mendalam mengenai relevansi metode pengajarannya terhadap kemanusiaan murid di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan.