Aktivitas peretasan yang dilakukan oleh kelompok peretas dari Iran terhadap Amerika Serikat dilaporkan menunjukkan peningkatan signifikan. Serangan ini menargetkan berbagai perangkat keras dan peralatan vital di seluruh sektor infrastruktur kritis.
Peningkatan serangan siber ini merupakan dampak langsung dari meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Hal ini disampaikan oleh gabungan badan keamanan siber, penegak hukum, serta intelijen Amerika Serikat pada Selasa waktu setempat, seperti dikutip dari Detik iNET.
Para peretas diketahui mengincar programmable logic controller (PLC) serta supervisory control and data acquisition display (SCADA). Hardware ini umumnya digunakan untuk berinteraksi atau mengendalikan sistem operasional infrastruktur yang sangat vital.
Tujuan utama dari serbuan siber ini adalah untuk menciptakan gangguan masif di wilayah Amerika Serikat. Beberapa kasus bahkan telah mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial.
Peringatan dari badan intelijen ini muncul seiring dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa peradaban dapat hancur jika Iran tidak segera mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga membalas dengan ancaman serangan terhadap lebih banyak target infrastruktur di negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Kondisi geopolitik yang memanas ini tampaknya merembet ke ranah perang siber.
Dalam melancarkan aksinya, para peretas tidak hanya berhasil masuk ke dalam sistem komputer. Mereka juga berinteraksi dengan file data, mengubah tampilan layar, dan mengekstrak data proyek dari perangkat keras yang diretas.
Operasi peretasan ini menargetkan banyak organisasi infrastruktur kritis yang namanya dirahasiakan demi alasan keamanan. Sektor yang diserang meliputi fasilitas layanan pemerintah, sistem air dan air limbah, hingga sektor energi.
Peringatan keamanan siber ini dikeluarkan bersama-sama oleh berbagai lembaga tinggi negara seperti FBI, NSA, CISA, EPA, dan Departemen Energi. FBI sendiri menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait serangan ini, demikian diberitakan Detik iNET pada Rabu (8/4/2026).