Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS) kini menjadi sorotan utama, seiring melonjaknya harga minyak mentah global imbas konflik di Timur Tengah. Rata-rata harga bensin nasional di AS telah mencapai US$ 4 per galon, atau setara dengan Rp 68.072 (berdasarkan kurs Rp 17.018 per dolar AS) untuk setiap 3,78 liter. Situasi ini, seperti dilansir dari Detik Finance, menimbulkan kemarahan di kalangan warga.
Kondisi tersebut memperparah beban hidup warga AS yang sebelumnya sudah menghadapi inflasi tinggi. Banyak masyarakat menyuarakan protes terkait kenaikan harga bensin yang signifikan ini. Mereka mengaitkan kenaikan harga BBM dengan keputusan pemerintah untuk terlibat dalam konflik di wilayah Timur Tengah.
Seorang warga bernama Jeanne Williams (83) merasakan langsung dampak kenaikan ini. Setelah menempuh perjalanan 100 mil (sekitar 160 km) dari Richmond, Virginia, menuju Falls Church, ia terkejut melihat harga yang tertera di papan LED SPBU Liberty. "Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang. Kami tidak meminta perang ini," ungkap Williams kepada AFP, yang dikutip pada Kamis (2/4/2026).
Di SPBU tempat Williams berhenti, yang berlokasi di Falls Church, harga bensin mulai dari US$ 3,79 (sekitar Rp 64.498) per galon untuk pembayaran tunai. Namun, harga akan lebih tinggi jika pembayaran dilakukan dengan kartu kredit atau debit. Bahkan, di SPBU lain yang sedikit lebih jauh, harga BBM sudah mencapai US$ 4,25 (sekitar Rp 72.326) per galon.
Luis Ramos (26), warga New York City, juga mengungkapkan beban yang dirasakannya. "Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket," kata Ramos di sebuah SPBU di New Jersey kepada AFP. Ia menambahkan bahwa kenaikan ini menambah tekanan pada biaya hidup yang sudah tinggi.
Mantan tentara Joseph Crouch (77) turut merasakan kesulitan akibat kenaikan harga BBM. Menurutnya, konflik AS dan Israel melawan Iran adalah hal yang konyol. "Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan," keluh Crouch, menjelaskan bahwa ia harus mengurangi frekuensi berkendara. "Kita sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan ini dikarenakan hal lain, tetapi ini jelas karena perang."
Secara umum, harga rata-rata bensin reguler di AS telah melampaui ambang batas psikologis US$ 4,00 per galon pada Selasa (1/3). Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 35% dibandingkan periode sebelum serangan AS dan Israel ke Iran yang memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Eliza Winger, seorang ekonom dari Bloomberg, berpendapat bahwa kenaikan harga BBM ini tidak hanya mempengaruhi konsumen di SPBU, tetapi juga berpotensi mengurangi total konsumsi bahan bakar secara keseluruhan. Kondisi ini dapat memicu efek domino yang berdampak negatif pada perekonomian AS secara menyeluruh. "Kami memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% mengurangi pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2%," jelas Winger. Harga bahan bakar di AS kini telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dari perkiraan tersebut sejak dimulainya konflik.