Nilai tukar Bitcoin mengalami tekanan hingga menyentuh level US$ 79.637,54 atau setara Rp 1,38 miliar pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Penurunan sebesar 2,28 persen dalam 24 jam tersebut dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu aksi jual investor.
Dilansir dari Detik Finance, pergerakan harga sempat menunjukkan pemulihan tipis ke level US$ 80.358,81 pada Sabtu (9/5/2026). Meski demikian, pasar kripto masih dibayangi sentimen negatif setelah Iran dilaporkan menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik.
Kondisi politik global tersebut mendorong pelaku pasar untuk keluar sementara dari aset berisiko. Selain tekanan geopolitik, data Coinmarketcap menunjukkan volatilitas tinggi ini menyebabkan likuidasi posisi long di pasar derivatif mencapai US$ 97,53 juta dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Dana kelolaan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat juga mencatatkan arus keluar bersih (net outflow) sekitar US$ 268,5 juta pada 8 Mei 2026. Tekanan ini memperparah koreksi harga yang sebelumnya diprediksi mampu menembus angka US$ 82.800 per koin.
"Penurunan Bitcoin ke area US$ 79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat," kata Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (9/5/2026).
Secara teknikal, area US$ 78.500 hingga US$ 78.000 menjadi zona krusial bagi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Jika level ini gagal dipertahankan, harga berpotensi mengalami koreksi lanjutan menuju area US$ 76.300 atau sekitar Rp 1,32 miliar.
Meskipun terjadi penurunan jangka pendek, aliran dana institusional secara kumulatif masih menunjukkan tren positif. Sepanjang April 2026, total arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$ 2,44 miliar, yang merupakan angka tertinggi sepanjang tahun ini.
Data on-chain mengungkapkan bahwa cadangan Bitcoin di bursa kini berada pada level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak investor besar atau pemilik dompet di atas 1.000 BTC masih cenderung mengakumulasi dan menyimpan aset mereka.
Pasar saat ini tengah memantau perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat, termasuk rencana pemungutan suara Senat terkait Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY). Agenda yang dijadwalkan pada Juni 2026 tersebut diprediksi akan menjadi sentimen penggerak pasar selanjutnya.