Harga Bitcoin Mendekati US$ 75.000 Akibat Ketegangan Geopolitik Iran-AS

Bitcoin melonjak 6% mendekati US$ 75.000 pada Senin (13/4) dipicu kebijakan 'Tol Bitcoin' Iran di Selat Hormuz dan inflasi Amerika Serikat.

Nilai tukar Bitcoin mengalami lonjakan signifikan sebesar 6 persen hingga mendekati level US$ 75.000 pada Senin (13/4/2026) menyusul ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Kenaikan ini dipicu oleh kebijakan Iran yang mewajibkan pembayaran 'Tol Bitcoin' bagi kapal tanker setelah adanya blokade oleh Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, dinamika global tersebut memicu fenomena short squeeze masif yang melikuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar. Kondisi ini memperkuat posisi aset kripto sebagai instrumen strategis dalam menghadapi tekanan ekonomi internasional.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma menjelaskan bahwa penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal kuat perkembangan adopsi kripto. Kebijakan Iran menetapkan tarif setara US$ 1 per barel dalam bentuk Bitcoin guna memastikan kelancaran transaksi di luar jangkauan sanksi AS.

"Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai," kata Antony Kusuma, Vice President INDODAX dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (16/4/2026).

Selain faktor geopolitik, tekanan inflasi di Amerika Serikat turut mendorong minat investor terhadap aset alternatif. Data Consumer Price Index (CPI) AS naik menjadi 3,3 persen pada Jumat (10/4/2026), lebih tinggi dari tren dua tahun terakhir yang berada di kisaran 2,4 persen hingga 3 persen.

Struktur harga Bitcoin saat ini didukung oleh aliran dana masuk (inflow) ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar US$ 1,94 miliar sepanjang periode Maret hingga April 2026. Penguatan ini berdampak positif pada aset kripto lain seperti Ethereum yang naik 8 persen ke US$ 2.380 dan Solana sebesar 5,2 persen.

Antony menambahkan bahwa relevansi teknologi blockchain kini mulai meluas dari aset spekulatif menjadi bagian penting dalam sistem perdagangan internasional. Meski demikian, investor diingatkan untuk waspada terhadap volatilitas pasar menjelang rilis data Producer Price Index dan agenda perpajakan di Amerika Serikat.

Recommended