Harga Emas Dunia Terkoreksi Akibat Penguatan Dolar AS 24 Maret 2026

Harga emas dunia mengalami penurunan 11% dalam sepekan terakhir pada 24 Maret 2026, dipicu penguatan dolar AS dan peralihan investor ke obligasi.

Harga emas global mengalami penurunan di tengah dinamika pasar yang dipengaruhi oleh sentimen perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Investor dilaporkan mengalihkan perhatian mereka ke aset lain yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian.

Menurut laporan dari CNN, harga emas dunia mengalami penurunan signifikan sebesar 11% dalam satu minggu terakhir, yang merupakan penurunan terdalam sejak tahun 1983. Secara kumulatif, sejak dimulainya konflik AS-Iran, harga emas dunia telah turun lebih dari 14%.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, berpendapat bahwa daya tarik emas sebagai aset safe haven kini kalah dibandingkan dengan dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss. Selain itu, harga emas yang telah meningkat tinggi selama dua tahun terakhir mendorong banyak pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung.

"Emas kalah bersinar dibanding dollar AS, yen Jepang, dan Swiss franc sebagai safe haven saat krisis Timur Tengah. Emas sudah terlalu mahal, jadi banyak trader yang profit taking karena sudah menumpuk emas dua tahun terakhir," kata Bhima, Selasa (24/3/2026).

Selain itu, kebutuhan akan likuiditas juga menjadi faktor yang membuat investor lebih memilih untuk memegang uang tunai. Bhima menambahkan bahwa mata uang Paman Sam berhasil memenangkan persaingan sebagai aset yang aman di tengah krisis. Ia memperkirakan harga emas akan turun ke level Rp 1,9-2 juta per gram.

"Kebutuhan likuiditas juga membuat emas tidak menarik. Sekarang cash is the king, artinya dolar AS adalah raja. Setelah ramai soal dedolarisasi, kini dolar AS memenangkan pertarungan sebagai aset yang paling aman di tengah krisis. Harga emas ke depan masih cenderung terkoreksi, diproyeksi ke level Rp 1,9-2 juta per gram," ujar Bhima.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa penurunan harga emas di tengah konflik yang sedang berlangsung merupakan fenomena yang tidak lazim. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar lebih dipengaruhi oleh faktor finansial daripada geopolitik.

Yusuf menjelaskan bahwa ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor, yang mengakibatkan penurunan harga.

"Dalam beberapa waktu terakhir, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor, sehingga harganya tertekan," jelas Yusuf.

Senada dengan Bhima, Yusuf juga menyoroti penguatan nilai tukar dolar AS sebagai faktor yang menekan harga emas. Emas yang diperdagangkan dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan menurun.

"Di saat yang sama, penguatan dolar AS juga ikut memperbesar tekanan, karena emas dihargakan dalam dolar, ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global. Ini membuat permintaan tidak sekuat biasanya, meskipun situasi global masih penuh risiko. Dalam konteks ini, pasar tampaknya melihat bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel belum sampai pada level yang benar-benar mengganggu stabilitas ekonomi global, sehingga dorongan ke aset safe haven seperti emas belum terlalu kuat," tutur Yusuf.

Investor Alihkan Dana ke Dolar AS dan Obligasi

Menurut Yusuf, saat ini, aset safe haven tidak lagi hanya terpusat pada emas. Sebagian investor justru beralih ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

"Menariknya, saat ini aset safe haven juga tidak hanya emas. Sebagian investor justru lebih memilih dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sehingga permintaan terhadap emas menjadi lebih terfragmentasi. Ini berbeda dengan pola klasik di mana emas biasanya menjadi tujuan utama saat risiko global meningkat," katanya.

Yusuf menambahkan bahwa arah harga emas di masa depan akan sangat bergantung pada dinamika suku bunga dan eskalasi geopolitik. Jika inflasi mereda dan suku bunga turun, emas berpotensi menguat kembali.

"Di sisi lain, jika konflik global berkembang lebih luas dan mulai berdampak ke sektor riil seperti energi atau perdagangan, maka permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai juga bisa meningkat," tutupnya.

Recommended