Harga Emas Dunia Anjlok Akibat Ketegangan Geopolitik 23 Maret 2026

Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan hingga 11% pada 23 Maret 2026, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga bank sentral.

Ketidakpastian geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah menyebabkan harga emas dunia mengalami penurunan tajam. Bahkan, penurunan harga emas dalam sepekan terakhir disebut sebagai yang terburuk sejak tahun 1983.

Menurut laporan dari CNN, harga emas dunia telah merosot sebesar 11% dalam perdagangan selama seminggu terakhir. Jika dihitung sejak awal konflik AS-Iran, penurunan harga emas mencapai lebih dari 14%.

Mengapa harga emas justru melemah di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu?

Emas sering dianggap sebagai aset "safe haven" yang dibeli investor saat terjadi inflasi, penurunan nilai mata uang, atau krisis. Namun, kenaikan harga energi akibat konflik tersebut mendorong bank sentral untuk mempertimbangkan kembali kebijakan suku bunga mereka.

Kondisi ini berdampak pada harga emas, karena gejolak tersebut memicu penguatan dolar AS dan mendorong investor untuk mengevaluasi kembali investasi mereka.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga stabil tahun ini. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan daya tarik investasi pada instrumen imbal hasil seperti obligasi.

Menurut CME FedWatch, tidak ada ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Sebelumnya, harga emas sempat naik setelah The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Namun, dalam beberapa bulan mendatang, The Fed diperkirakan tidak akan melakukan pemangkasan, yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.

Selain The Fed, bank sentral di seluruh dunia juga menyesuaikan kebijakan suku bunga akibat konflik Iran dan gangguan harga energi. Kekhawatiran tentang inflasi mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia.

Dolar AS menunjukkan pemulihan bulan ini. Hal ini membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor internasional, karena pergerakan mata uang AS mempengaruhi harga logam mulia tersebut.

"Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar," kata Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, dikutip dari CNN, Senin (23/3/2026).

Emas biasanya diuntungkan dari pelemahan dolar, karena logam mulia menjadi lebih terjangkau bagi investor global. Namun, sejak konflik AS dan Iran dimulai, indeks dolar telah naik hampir 2%.

Pemulihan dolar ini dapat mengurangi daya tarik emas. Permintaan akan aset aman, kekhawatiran tentang inflasi, dan prospek suku bunga yang lebih tinggi telah mendorong penguatan dolar. Hal ini menjadi indikasi bahwa konflik Iran dapat mengganggu ekonomi global.

Kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh euforia yang kini mereda. Investor juga mungkin menjual emas untuk menutupi kerugian pada aset lain. Momentum mulai melemah setelah harga emas melonjak tinggi selama dua tahun terakhir.

Harga emas dunia sempat mencatat kenaikan tertinggi sejak 1979, yakni sebesar 64% pada tahun 2025. Logam mulia ini mencapai harga US$ 5.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada bulan Januari. Kemudian pada Jumat, harga emas turun di bawah US$ 4.500 per troy ons seiring meredanya euforia logam mulia.

Recommended