Harga Minyak Dunia Naik Imbas Geopolitik Timur Tengah Memanas

Kenaikan harga minyak dunia dipicu memanasnya geopolitik Timur Tengah. Indonesia siapkan langkah antisipasi subsidi energi.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memanas berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz oleh Iran, menjadi faktor utama pendorong kenaikan ini.

Sebagai jalur logistik minyak dan gas terpenting di dunia, Selat Hormuz memiliki peran krusial. Sekitar 20% pasokan energi dunia melewati selat ini, sehingga penutupannya mengganggu rantai pasokan global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki stok Bahan Bakar Minyak (BBM) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hari ke depan.

"Masih cukup 20 hari," kata Bahlil saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026), menjawab pertanyaan mengenai ketahanan energi Indonesia.

Harga minyak mentah Brent saat ini berada di level US$ 78,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 72,23 per barel. Analis memprediksi harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 80-100 per barel.

Untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak, pemerintah berencana menggelar rapat koordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN).

"Nanti besok insyallah saya rapat di ESDM, kami akan rapat Dewan Energi Nasional," ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan, hingga saat ini kenaikan harga minyak belum berdampak signifikan terhadap subsidi energi. Pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.

"Sampai hari ini nggak ada masalah, tapi kan harga dunia akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah," kata Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil menyatakan akan membahas dampak kondisi Timur Tengah terhadap alokasi subsidi energi dalam negeri bersama Dewan Energi Nasional.

Recommended