Trump Bebaskan Kapal Selat Hormuz Picu Penurunan Harga Minyak Dunia

Presiden Donald Trump berjanji bebaskan kapal komersial di Selat Hormuz pada Minggu (3/5/2026), memicu penurunan harga minyak Brent dan WTI.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembebasan kapal-kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz pada Minggu (3/5/2026) guna meredakan ketegangan maritim akibat konflik dengan Iran. Langkah tersebut langsung memicu penurunan harga minyak mentah global pada perdagangan Senin (4/5/2026) pagi.

Harga minyak mentah Brent berjangka melemah sebesar US$ 64 sen atau 0,59 persen ke level US$ 107,53 per barel pada pukul 06.08 WIB hari ini, dilansir dari Detik Finance. Penurunan serupa terjadi pada West Texas Intermediate (WTI) AS sebesar 0,82 persen menjadi US$ 101,10 per barel.

Kelesuan harga komoditas energi ini terjadi meski kesepakatan damai antara AS dan Iran belum tercapai sepenuhnya, sehingga harga masih bertahan di atas level psikologis US$ 100 per barel. Negosiasi antara kedua negara dilaporkan terus berlanjut sepanjang akhir pekan kemarin.

"Perundingan perdamaian terhenti karena kedua belah pihak menolak untuk bergeming terkait garis merah masing-masing," kata analis ANZ dalam sebuah catatan yang dikutip dari Reuters pada Senin (4/5/2026).

Fokus utama pemerintahan Trump saat ini adalah penyelesaian perang melalui kesepakatan nuklir dengan Iran. Di sisi lain, pihak Iran mengusulkan penangguhan isu nuklir hingga konflik berakhir dan menuntut pencabutan blokade pelayaran di kawasan Teluk yang saling menghambat perdagangan.

Melalui unggahan di media sosial pada Minggu waktu setempat, Trump menegaskan bahwa militer AS akan memandu kapal-kapal komersial keluar dari jalur perairan terlarang demi kepentingan ekonomi kawasan. Kapal-kapal tersebut telah terjebak di Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026.

"Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sebagai langkah tambahan untuk menstabilkan pasar, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya juga menyatakan akan meningkatkan target produksi. Mereka berencana menambah pasokan sebesar 188.000 barel per hari mulai Juni mendatang untuk memperkuat stok global.

Recommended