Laba Exxon Mobil dan Chevron Anjlok Akibat Konflik Amerika-Iran

Laba Exxon Mobil dan Chevron merosot tajam pada kuartal I-2026 akibat penutupan Selat Hormuz dan gangguan rantai pasok akibat konflik Amerika Serikat-Iran.

Dua perusahaan migas raksasa, Exxon Mobil dan Chevron, mencatatkan penurunan laba bersih yang signifikan pada kuartal I-2026 akibat gejolak harga minyak dan penutupan Selat Hormuz yang dipicu ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran pada Jumat (1/5/2026).

Dilansir dari Detik Finance, laporan kinerja Exxon Mobil menunjukkan perolehan laba sebesar US$ 85,14 miliar atau sekitar Rp 1.475,98 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut menandai kemerosotan laba hingga 45 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Meski mengalami penurunan tajam, realisasi pendapatan Exxon Mobil tersebut masih berada di atas ekspektasi para analis Wall Street yang sebelumnya memproyeksikan angka US$ 82,18 miliar atau Rp 1.424,67 triliun. Kondisi ini mencerminkan tingginya volatilitas pasar energi selama konflik berlangsung.

Penurunan kinerja keuangan yang lebih dalam dialami oleh Chevron, yang melaporkan laba bersih sebesar US$ 48,61 miliar atau setara Rp 842,7 triliun. Capaian ini anjlok 36 persen dari kuartal I-2025 dan gagal memenuhi estimasi Wall Street yang mematok target US$ 52,1 miliar atau Rp 903,2 triliun.

CEO Exxon Mobil, Darren Woods, menjelaskan bahwa konfrontasi bersenjata di kawasan Timur Tengah tersebut telah mengganggu sekitar 15 persen dari total produksi perusahaan. Hambatan logistik menjadi tantangan utama karena gangguan pada proses pengiriman dan distribusi minyak mentah global.

"Exxon mengalihkan sekitar 13 juta barel ke pasar yang paling membutuhkannya selama perang. Namun, tindakan ini berdampak negatif secara akuntansi terhadap pendapatan Exxon pada kuartal I," kata Woods. Ia menambahkan bahwa butuh waktu satu hingga dua bulan untuk menormalisasi aliran minyak setelah jalur Selat Hormuz dibuka.

Berbeda dengan koleganya, CEO Chevron, Mike Wirth, menyatakan bahwa perusahaannya memiliki tingkat kerentanan yang lebih rendah terhadap dampak langsung peperangan di Timur Tengah. Hal ini disebabkan oleh porsi operasional Chevron yang lebih besar di wilayah Amerika, Asia, dan Afrika.

Wirth menegaskan bahwa lini operasi mereka di Israel, Kuwait, dan Arab Saudi tergolong kecil jika dibandingkan dengan eksposur global perusahaan. Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau stabilitas jalur pasokan minyak internasional seiring berlanjutnya ketegangan geopolitik tersebut.

Recommended