Harga Produk Plastik Diprediksi Melonjak Akibat Perang Timur Tengah

Konsumen diperingatkan akan kenaikan harga barang berbahan plastik, seperti alat makan sekali pakai dan minuman kemasan, akibat konflik di Timur Tengah.

Konflik di Timur Tengah yang berlarut-larut berpotensi memicu lonjakan harga produk plastik secara signifikan. Para ahli telah memperingatkan konsumen untuk bersiap menghadapi kenaikan biaya pada berbagai barang konsumsi yang mengandalkan bahan baku plastik.

Kondisi ini tidak terlepas dari ketergantungan industri plastik pada minyak bumi, yang harganya telah melonjak lebih dari 40% sejak awal pecahnya perang. Patrick Penfield, seorang profesor rantai pasokan dari Universitas Syracuse, menyebutkan bahwa alat makan sekali pakai, minuman kemasan, dan kantong sampah kemungkinan akan menjadi komoditas pertama yang mengalami kenaikan harga dalam beberapa minggu mendatang, seperti dikutip dari Detik iNET.

Biaya pengemasan yang lebih tinggi juga dapat berdampak pada harga makanan dalam kurun waktu dua hingga empat bulan ke depan. Sementara itu, untuk industri seperti manufaktur otomotif, di mana plastik hanya merupakan salah satu komponen, kenaikan harga mungkin baru terasa kurang dari setahun, terutama karena harga bahan baku sering kali terkunci dalam kontrak tetap.

Kenaikan ini didorong oleh gejolak harga minyak dan gas alam, menyusul ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Jalur perairan ini sangat penting bagi rantai pasokan energi dan petrokimia global, mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Menurut Center for International Environmental Law, peningkatan harga energi tidak hanya menaikkan biaya produksi, tetapi juga harga material utama seperti polietilena (PE) dan polipropilena, dua jenis plastik yang paling banyak digunakan.

Timur Tengah merupakan pemasok vital bahan baku plastik, menyumbang sekitar seperempat dari total ekspor polietilena dan polipropilena global, berdasarkan data dari S&P Global Energy. Harrison Jacoby, direktur polietilena di Independent Commodity Intelligence Services, menyoroti bahwa sekitar 84% kapasitas PE di Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk jalur ekspor laut.

Kondisi pasar resin plastik telah menunjukkan lonjakan harga dua digit di sebagian besar kategori manufaktur dalam 30 hari terakhir. Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange, menyatakan bahwa dalam 25 tahun pengalamannya di industri ini, ia belum pernah menyaksikan kenaikan bulanan PE sebesar ini.

Plastik terintegrasi kuat di berbagai sektor, mulai dari pengemasan dan konstruksi hingga otomotif dan perawatan kesehatan. Beralih ke alternatif seperti kertas atau kaca sering kali membutuhkan biaya dan waktu yang besar, sehingga dalam jangka pendek, pilihan pengganti plastik sangat terbatas.

Produk yang didominasi plastik, seperti kantong sampah, kemungkinan akan mengalami kenaikan harga yang lebih tajam dibandingkan barang kompleks seperti mobil. Jika tingginya harga minyak bertahan hingga tiga atau empat bulan, konsumen harus bersiap untuk membayar harga yang lebih tinggi selama satu hingga dua tahun ke depan. Greenberg menambahkan, bahkan jika konflik berakhir besok, butuh waktu lama bagi rantai pasokan untuk kembali normal.

Recommended