Pemerintah Dorong Hilirisasi Tembaga dan Nikel Hingga Industri Produk Akhir

Pemerintah memacu hilirisasi mineral tembaga dan nikel hingga menjadi produk akhir seperti baterai dan mobil listrik untuk dongkrak ekonomi nasional.

Pemerintah terus memacu program hilirisasi komoditas mineral tembaga dan nikel guna menciptakan efek pengganda ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pada Selasa (12/5/2026). Langkah strategis ini bertujuan mengubah hasil tambang mentah menjadi produk konsumsi akhir seperti komponen elektronik dan kendaraan listrik.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai keberhasilan hilirisasi saat ini baru terlihat pada komoditas nikel dan tembaga. Salah satu tonggak utamanya adalah pengoperasian smelter baru milik Freeport di Gresik, Jawa Timur.

Dilansir dari Detik Finance, hilirisasi diharapkan tidak hanya berhenti pada pengolahan produk setengah jadi. Bisman menekankan pentingnya integrasi hingga ke industri manufaktur akhir untuk meningkatkan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja secara masif.

"Ada smelter tembaga di Gresik itu perlu didukung pengembangan industri hilir seperti kabel, komponen listrik, dan kendaraan listrik agar penyerapan tembaga domestik meningkat," kata Bisman Bakhtiar, Direktur Eksekutif Pushep.

Sektor industri tembaga nasional saat ini masih dipimpin oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengelola proses dari hulu hingga hilir. Perusahaan ini mampu menghasilkan sekitar 3,2 juta ton konsentrat per tahun yang diolah menjadi 900 ribu ton tembaga serta puluhan ton emas.

Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang diserahkan ke Kementerian ESDM, PTFI memproyeksikan produksi tembaga sebesar 478 ribu ton. Proyeksi harga komoditas global juga menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada tahun ini.

Harga tembaga diperkirakan mencapai US$ 4,75 per pound, sementara harga emas diprediksi menembus angka US$ 4.000 per ounce. Kenaikan harga pasar internasional ini berdampak positif pada proyeksi pendapatan negara dari sektor pertambangan.

Estimasi penerimaan negara dari operasional Freeport tahun 2026 mengalami revisi kenaikan dari US$ 2,7 miliar menjadi US$ 2,9 miliar. Peningkatan ini dipicu oleh optimisme terhadap harga komoditas yang lebih tinggi dibandingkan asumsi awal dalam rencana kerja perusahaan.

Recommended