Sekelompok ibu rumah tangga di Desa Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, aktif memproduksi Batik Ciwitan sebagai produk unggulan ekonomi kreatif desa pada Rabu (28/4/2026). Kegiatan rutin ini dilakukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus melestarikan wastra nusantara.
Eka Harijayanti, perintis Batik Ciwitan, menjelaskan bahwa produk ini merupakan perpaduan teknik jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang. Dilansir dari Detik Finance, usaha yang dirintis sejak 2012 ini kini telah memberdayakan 15 ibu rumah tangga di lingkungan sekitar.
"Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari Bahasa Sunda yaitu 'ciwit' karena bikinnya diciwit. Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang," ujar Eka Harijayanti, pemilik Batik Ciwitan.
Proses produksi dilakukan dengan jadwal teratur, meliputi penjahitan kain setiap Selasa, pembelajaran pola pada Kamis, dan pewarnaan di sanggar pada Sabtu. Satu helai kain ukuran 2,5 meter membutuhkan waktu pengerjaan antara satu hingga tiga minggu tergantung kerumitan desain.
Produk wastra ini dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 750 ribu per lembar. Konsumen utama produk ini adalah kalangan khusus yang mencari keunikan motif batik yang dibuat secara manual dan personal.
Usaha ini mengalami perkembangan signifikan setelah Desa Benteng terpilih menjadi Desa BRILiaN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Status tersebut membuat Sanggar Batik Ciwitan menjadi destinasi kunjungan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Wahyu Syarief Hidayat, Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, menyatakan bahwa kelompok ini menerima manfaat dana hibah sebesar Rp 200 juta pada 2023. Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan alat produksi seperti canting, cap, meja, hingga pembangunan gapura kampung tematik.
Kunjungan dari berbagai instansi, sekolah, hingga mahasiswa dari Amerika Serikat dan Jepang turut mendongkrak penjualan. Dalam satu bulan, rata-rata kunjungan tersebut mampu menghasilkan penjualan 10 hingga 20 kain batik secara langsung di lokasi sanggar.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyebutkan program Desa BRILiaN bertujuan untuk memperkuat ekonomi lokal melalui inovasi dan digitalisasi. Hingga tahun 2025, tercatat lebih dari 5.200 desa di seluruh Indonesia telah mendapatkan pembinaan serupa dari pihak perbankan.