Sisa-sisa fisik dari harimau tasmania terakhir yang diketahui mati pada 7 September 1936 akhirnya berhasil diidentifikasi oleh para peneliti di Tasmanian Museum and Art Gallery. Penemuan kerangka hewan marsupial unik ini mengakhiri spekulasi panjang mengenai keberadaan spesimen terakhir spesies tersebut setelah sempat dianggap hilang selama puluhan tahun.
Dilansir dari Detik iNET, thylacine terakhir tersebut mati di Kebun Binatang Beaumaris, Hobart, hanya dua bulan setelah spesiesnya secara resmi mendapatkan status dilindungi. Sebelumnya, tubuh hewan pemangsa ini diyakini telah dibuang, namun ternyata tersimpan dalam kotak tanpa label di museum lokal.
Identifikasi ini juga sekaligus membantah mitos populer mengenai identitas hewan tersebut yang selama ini dikenal dengan nama Benjamin. Robert Paddle, seorang peneliti dan penulis buku The Last Tasmanian Tiger, mengungkapkan bahwa nama dan narasi seputar Benjamin merupakan karangan seseorang bernama Frank Darby pada tahun 1960-an.
"Itu adalah seekor betina, dan tentu saja namanya bukan Benjamin. Itu adalah mitos yang disayangkan (yang diciptakan oleh) seorang pembohong kelas kakap," kata Robert Paddle, Peneliti dan Penulis, mengenai temuan sejarah tersebut.
Data sejarah menunjukkan bahwa Thylacine atau Thylacinus cynocephalus pernah tersebar di seluruh daratan Australia dan Papua Nugini sebelum punah di daratan utama sekitar 3.000 tahun lalu. Populasi terakhir yang bertahan di Pulau Tasmania mengalami tekanan berat akibat perburuan massal yang disponsori pemerintah pada era 1880-an karena dianggap mengancam ternak petani.
Meskipun dinyatakan punah secara resmi pada pertengahan abad ke-20, beberapa pemodelan komputer menunjukkan kemungkinan hewan ini bertahan di area terpencil hingga kurun waktu 1980-an atau 2000-an. Kelompok penggemar fanatik bahkan terus mengumpulkan bukti berupa jejak kaki dan rekaman video buram untuk membuktikan keberadaan mereka di hutan Tasmania.
Hingga saat ini, mayoritas komunitas ilmiah tetap berpegang pada status punah bagi harimau tasmania karena ketiadaan bukti fisik yang konkret di alam liar. Penemuan kerangka di museum tersebut kini menjadi referensi penting bagi studi sejarah kepunahan spesies di Australia.