Korea Selatan menyerukan kampanye penghematan energi secara nasional. Hal ini menyusul terganggunya pasokan minyak dan gas (migas) akibat perang Iran.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyatakan bahwa institusi publik akan mengurangi penggunaan kendaraan dinas.
Menteri Energi Kim Sung-whan, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (24/3/2026), menjelaskan bahwa pembatasan penggunaan kendaraan di sektor swasta masih bersifat sukarela. Akan tetapi, status ini bisa diperketat jika keadaan darurat energi meningkat.
Pemerintah Korea Selatan mengimbau masyarakat untuk menerapkan 12 langkah penghematan energi. Langkah-langkah tersebut meliputi mandi lebih singkat, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan mesin cuci dan vacuum cleaner di akhir pekan.
Pemerintah juga akan meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar untuk menekan konsumsi. Selain itu, pemerintah mendorong pengaturan jam kerja bergilir, dan langkah efisiensi lainnya.
Korea Selatan akan mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir pada Mei, melonggarkan pembatasan pembangkit listrik berbasis batu bara, serta memperluas energi terbarukan. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang pada LNG. Masa operasi tiga PLTU yang dijadwalkan pensiun tahun ini dipertimbangkan untuk diperpanjang.
Penyesuaian bauran energi ini diperkirakan bisa menghemat hingga 14.000 ton, atau sekitar 20% dari konsumsi LNG harian Korea Selatan yang mencapai 69.000 ton untuk pembangkit listrik.
Grup HD Hyundai telah menerapkan langkah penghematan energi di berbagai anak usaha. Langkah-langkah itu termasuk pembatasan kendaraan secara sukarela, pengurangan penggunaan plastik, serta penghematan listrik seperti mematikan lampu.
Korea Selatan juga berencana menyusun anggaran tambahan 25 triliun won atau US$ 16,6 miliar dalam waktu dekat. Paket ini dapat mencakup bantuan tunai bagi masyarakat dan dukungan keuangan untuk perusahaan, di tengah tren stimulus di berbagai negara.
Lee menegaskan, "Saat ini yang terpenting bukan menghemat anggaran pemerintah, melainkan menyalurkan dana secara cepat dan tepat sasaran." Kementerian Keuangan menyatakan bahwa anggaran tersebut akan diajukan ke parlemen sebelum akhir Maret.
Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran serta aksi balasan Teheran telah mengganggu pasar energi global secara signifikan. Akibatnya, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz nyaris terhenti.
Korea Selatan mengimpor sekitar 70% kebutuhan minyak mentahnya melalui jalur tersebut, menurut data parlemen dan kementerian industri.
Meski memiliki cadangan minyak 190 juta barel (100 juta barel milik pemerintah dan 90 juta barel milik swasta), Korea Selatan tetap menghadapi potensi krisis energi.
Standar dari International Energy Agency (IEA) menyebut cadangan tersebut bisa bertahan hingga 208 hari. Namun, angka ini tidak memperhitungkan penggunaan seperti ekspor petrokimia, sehingga daya tahan riilnya bisa jauh lebih pendek.
Berdasarkan konsumsi harian sekitar 2,9 juta barel pada 2024 menurut data Korea National Oil Corporation, para analis memperkirakan cadangan tersebut bahkan mungkin tidak cukup untuk dua bulan. Pemerintah juga telah mengamankan komitmen pasokan 24 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab, namun waktu pengirimannya masih belum pasti.