Hari Raya Idulfitri seringkali dimaknai sebagai momentum kembali ke fitrah melalui tradisi maaf-memaafkan, yang lebih dari sekadar tradisi, menjadi proses penyembuhan diri.
Miftakhul Jannah, dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menjelaskan bahwa memaafkan bukan hanya tuntunan sosial, tetapi juga transformasi emosional yang mengubah rasa sakit menjadi ketenangan.
Mifta, mengutip Robert Enright dan Everett Worthington, menyebut bahwa tradisi saling memaafkan berfungsi sebagai emotional release atau pelepasan beban emosi yang terperangkap.
Suasana spiritual di hari raya menciptakan ruang refleksi dan menumbuhkan empati untuk memperkuat atau memulihkan hubungan.
Manfaat memaafkan berdampak langsung pada kesehatan mental. Melepaskan dendam mengubah cara pandang terhadap pengalaman pahit.
Proses ini memutus rantai rumination, yaitu kebiasaan memutar memori negatif berulang-ulang.
“Jika dibiarkan, pola pikir rumination dapat memicu stres kronis dan beban emosional yang berat. Sebaliknya, individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi,” papar Mifta, dikutip dari laman unesa.ac.id, Sabtu, 21 Maret 2026.
Memendam amarah dalam jangka panjang diibaratkan memikul beban berat yang tak terlihat, berisiko memicu kelelahan mental hingga depresi.
Dalam psikologi, memaafkan adalah bentuk emotion-focused coping, cara mengelola tekanan dengan mengatur respons emosi terhadap peristiwa menyakitkan.
Meski tampak sederhana, memaafkan sering kali menjadi perjalanan terjal karena kedalaman luka dan sejarah interpersonal setiap orang bersifat personal.
Namun, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan keputusan untuk tidak membiarkan masa lalu mengontrol kebahagiaan dan ketentraman jiwa saat ini dan di masa depan.
Melalui pemaknaan ulang terhadap pengalaman pahit, seseorang dapat meletakkan beban di pundaknya.
“Ketika memaafkan dilakukan dengan tulus, hal ini tidak hanya merajut kembali tali silaturahmi, tetapi merupakan hadiah paling berharga bagi diri sendiri agar bisa melangkah dengan lebih ringan, tenang, dan sejahtera secara psikologis,” ujar dia.