Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah dengan penurunan signifikan sebesar 3,06 persen ke posisi 7.152,85 pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (24/4/2026). Penurunan tajam ini mengonfirmasi kelanjutan tren negatif bursa domestik yang telah berlangsung sepanjang pekan ini.
Data perdagangan RTI Business menunjukkan indeks sempat menyentuh posisi tertinggi di level 7.383,40 sebelum akhirnya merosot ke level 7.100-an. Kondisi pasar terpantau didominasi oleh aksi jual, dengan 642 saham melemah dan hanya 90 saham yang berhasil menguat, sementara 82 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan hingga tengah hari mencapai 28,63 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 13,24 triliun. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, tekanan jual investor asing masih terus membayangi pergerakan indeks di lantai bursa.
Tren pelemahan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Senin (20/4), saat IHSG terkoreksi 0,52 persen. Jika dihitung secara akumulatif dalam sepekan terakhir, nilai indeks saham nasional telah merosot hingga 6,30 persen.
Aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) tercatat mencapai Rp 978,65 miliar pada perdagangan Kamis (24/4) kemarin. Angka tersebut menambah akumulasi dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2026 yang kini menembus Rp 40,80 triliun.
Sejumlah saham milik konglomerat besar turut menjadi pemicu penurunan indeks dan masuk dalam jajaran top losers pada sesi I hari ini. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) milik Prajogo Pangestu terpangkas 9,91 persen ke level harga Rp 1.000 per lembar saham.
Selain itu, saham dari Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), juga mengalami koreksi dalam. Harga saham DSSA turun 9,78 persen dan berada pada posisi Rp 2.030 per lembar saham saat jeda perdagangan siang.