IHSG Bergerak Terbatas, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Penentu Arah

IHSG ditutup koreksi tipis 0,08% ke 7.091,67 pada Senin (30/03), didorong saham DSSA dan DCII, namun tertekan sektor perbankan dan aksi jual asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan terbatas dengan sedikit koreksi sebesar 0,08% pada penutupan perdagangan Senin (30/03), mengakhiri sesi di posisi 7.091,67. Dinamika pasar ini mencerminkan sentimen campuran yang memengaruhi berbagai sektor, dilansir dari Detik Finance.

Penguatan indeks didukung oleh kenaikan beberapa saham signifikan. Saham DSSA menguat 6,62%, DCII naik 4,73%, serta ASII bertambah 3,67%. Namun, tekanan signifikan datang dari sektor perbankan dan energi, dengan BBCA turun 3,73%, BBRI melemah 1,75%, dan BYAN terkoreksi 3,25%.

Aksi jual bersih oleh investor asing masih berlanjut, mencapai Rp678,17 miliar di pasar reguler dan Rp686,13 miliar di seluruh pasar. Fenomena ini menunjukkan adanya sentimen negatif dari investor luar negeri terhadap kondisi pasar domestik.

Secara sektoral, empat dari sebelas sektor mencatat penurunan. Sektor keuangan menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 1,17%, sementara sektor energi menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,18%. Hal ini mengindikasikan pergeseran minat investor antar sektor.

Kondisi pasar global juga bervariasi. Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam, di mana Dow Jones menguat tipis 0,11% ke 45.216, namun S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,39% ke 6.343 dan 0,73% ke 20.794. Kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan CPO memberikan sentimen positif bagi negara produsen, termasuk Indonesia, terlihat dari penguatan ETF EIDO sebesar 0,45%.

Namun, lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang melampaui USD 100 per barel menimbulkan kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi dan potensi perlambatan ekonomi global. Kondisi ini sejalan dengan pelemahan indeks MSCI Indonesia sebesar 0,78%.

PT Mega Capital Sekuritas, yang merupakan bagian dari CT Corpora dan telah beroperasi sejak 1991, turut memantau perkembangan emiten dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli.

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM)

Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) melaporkan pertumbuhan kinerja yang kuat pada tahun 2025. Laba bersih bank ini mencapai Rp1,62 triliun, naik 24,80% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,29 triliun. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga dan bagi hasil syariah sebesar 22,78% menjadi Rp10,29 triliun, meskipun beban bunga dan bagi hasil juga naik 15,75% menjadi Rp3,07 triliun.

Penyaluran kredit BJTM menunjukkan peningkatan dengan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) naik menjadi 85,39% pada 2025, dibandingkan 82,05% pada 2024 dan 70,03% pada 2023. Meskipun demikian, rasio kredit bermasalah (NPL) juga mengalami kenaikan menjadi 3,88% dari 3,45% sebelumnya. Manajemen BJTM berkomitmen untuk menjaga kualitas kredit dan menargetkan penurunan NPL gross ke kisaran 3,20% hingga 3,40% pada tahun berjalan.

Saranacentral Bajatama (BAJA)

Emiten Saranacentral Bajatama (BAJA) berencana melakukan penambahan modal melalui skema rights issue dengan menerbitkan 1 miliar saham baru. Dana yang terkumpul dari aksi korporasi ini akan dialokasikan untuk melunasi kewajiban perusahaan kepada pihak terafiliasi, Sarana Steel.

Total kewajiban yang akan diselesaikan mencapai sekitar Rp445,33 miliar, yang terdiri dari pokok utang sebesar Rp317,56 miliar dan bunga Rp127,76 miliar. Dalam proses ini, Sarana Steel bersama pemegang saham pengendali, Ibnu Susanto, akan bertindak sebagai pembeli siaga dengan porsi maksimal masing-masing 70% dan 30%. Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki struktur keuangan perseroan dan menyelesaikan kewajiban yang ada.

Recommended