IHSG Melemah ke 6.961, Dipengaruhi Sentimen Global dan Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke 6.961 pada 6 April 2026, tertekan oleh dinamika global dan kebijakan domestik seperti program B50.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tertekan pada awal perdagangan Senin, 6 April 2026, membuka sesi di level 6.961. Penurunan ini menandai kelanjutan tren pelemahan yang telah terjadi dalam beberapa pekan terakhir, seperti dilansir dari Medcom.

Sejumlah indeks saham unggulan turut bergerak di zona merah. Indeks JII tercatat pada level 471, sementara LQ45 berada di posisi 705. Tekanan terhadap IHSG juga datang dari saham-saham berkapitalisasi besar.

Beberapa emiten yang menjadi pemberat utama di awal perdagangan meliputi BREN, MDKA, MAPI, AMRT, ANTM, dan BRPT. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian pasar.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar saham masih cukup kuat. Dalam sepekan hingga 2 April 2026, IHSG telah terkoreksi 0,99% dan menunjukkan pelemahan selama enam pekan berturut-turut. Aksi jual investor asing juga berlanjut, dengan nilai outflow mencapai Rp2,94 triliun di seluruh pasar.

Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian. Berdasarkan data JISDOR, kurs rupiah menembus Rp17.015 per dolar AS pada 2 April 2026, mencapai level terendah sepanjang sejarah. Situasi ini memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Sentimen global ikut membayangi pergerakan IHSG. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong aliran dana keluar (capital outflow) dan meningkatkan risiko pelebaran defisit APBN.

Meskipun demikian, otoritas pasar seperti OJK, BEI, dan KSEI telah menyelesaikan beberapa agenda transparansi pasar modal. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya tarik Indonesia di mata penyedia indeks global seperti MSCI.

Kebijakan tersebut meliputi pembukaan data kepemilikan saham di atas 1%, penerapan High Shareholding Concentration (HSC), klasifikasi 39 tipe investor, serta peningkatan batas minimum free float menjadi 15% yang berlaku sejak 31 Maret 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menjelaskan bahwa sentimen global dan domestik menjadi penyebab lesunya pasar saham Indonesia. David menilai bahwa pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kesiapan menyerang Iran memicu kepanikan investor global dan mendorong peralihan dana ke aset safe haven.

“Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek,” jelas David pada Senin, 6 April 2026, seperti dikutip dari Waspada.id.

Dari sisi domestik, program B50 menjadi sentimen yang membebani pasar. Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, mengumumkan peningkatan campuran biodiesel berbasis sawit menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli dari sebelumnya 40%.

David khawatir pengalihan berlebih CPO ke biodiesel berisiko memicu kenaikan harga minyak goreng dan inflasi, yang dapat menekan daya beli masyarakat serta memberikan sentimen negatif bagi sektor consumer goods.

David juga mengimbau investor untuk memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan harga minyak. “Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis,” tandasnya.

Menurut David, jika harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel, beban subsidi energi dalam APBN akan membengkak secara signifikan, mengancam batas aman defisit fiskal negara. Tekanan ini diperparah oleh Rupiah yang menembus Rp17.000 per Dolar AS, meningkatkan biaya impor bahan baku dan memicu inflasi domestik.

Sentimen tambahan juga datang dari penyesuaian komposisi kepemilikan saham global seiring proyeksi perubahan metodologi MSCI. Faktor ini dinilai dapat memicu tekanan lanjutan terhadap IHSG, terutama dari sisi aliran dana asing.

Mengutip Infobanknews, Tim Investment Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) memproyeksikan IHSG hari ini secara teknikal akan bergerak melemah di rentang 6.800-7.200. “IHSG diproyeksikan bergerak melemah di awal pekan seiring pengumuman high shareholding concentrate pada saham berkapitalisasi besar seperti BREN dan DSSA, dengan rentang pergerakan 6.800-7.200,” ucapnya dalam risetnya pada 6 April 2026.

IHSG diproyeksikan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance pada 7.250. Rentang ini mencerminkan ruang gerak indeks yang masih terbatas di tengah tingginya ketidakpastian pasar. Investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan strategi trading jangka pendek.

Dari eksternal, pergerakan bursa global cenderung beragam. Indeks S&P 500 ditutup menguat tipis 0,11%, sementara Nasdaq terkoreksi 0,18% pada akhir pekan lalu. Presiden Donald Trump juga memperingatkan tenggat negosiasi dengan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, yang dapat berdampak pada stabilitas pasokan energi global.

Harga minyak mentah Brent melanjutkan kenaikan, naik 1,92% ke level USD111 per barel pada pagi ini, yang turut meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Sementara itu, data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang masih solid.

Non-Farm Payroll periode Maret 2026 tercatat naik 178 ribu, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang turun 133 ribu. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi masih berada di atas target bank sentral AS.

Di kawasan Asia, pergerakan pasar cenderung menguat terbatas. Indeks KOSPI naik 1,08% dan Nikkei 225 menguat 0,51% pada perdagangan pagi ini. Meskipun demikian, KOSPI masih mencatat penurunan hingga 19% sepanjang Maret 2026, seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga energi.

Rekomendasi Trading Saham IPOT

Merespons dinamika pasar, IPOT, yang dilengkapi fitur LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), merekomendasikan beberapa saham untuk trading:

  • STAA (PT Sumber Tani Agung Resources Tbk): Prospek cerah seiring program B50. Secara teknikal, pergerakan harga saham STAA menunjukkan resiliensi yang solid dengan bertahan di atas area MA5. Indikator MACD menunjukkan pola bullish crossover.
  • UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk): Menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah berhasil menunjukkan resiliensi di area strong support-nya. Keberhasilan harga bertahan di zona krusial ini mengindikasikan tekanan jual mereda, diperkuat volume transaksi yang meningkat.
  • JPFA (PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk): Optimisme baru menyelimuti seiring program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara teknikal, saham raksasa poultry ini menunjukkan kekuatan solid dengan bertahan di atas area MA5 dan bersiap melakukan breakout dari MA50.
  • Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC): Berada dalam fase downtrend jangka pendek. RSI di level 42 menunjukkan momentum mulai pulih dari area oversold. IPOT merekomendasikan DCA (Dollar Cost Averaging) dengan potensi buy terbatas jika terjadi breakout valid di atas MA10.

Recommended