Dampak dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai terasa di Indonesia. Pada Rabu (4/3), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami pelemahan sejak sesi pertama perdagangan.
Menurut data dari detikFinance, pelemahan indeks saham Indonesia ini sebenarnya sudah terjadi sejak Senin (2/3). IHSG sempat menyentuh angka 7.588,38, turun dari level pembukaan 7.869,37. Tercatat volume perdagangan mencapai 25 miliar dengan nilai transaksi Rp 12,88 triliun dan frekuensi saham sebanyak 1.504.554 kali.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, membenarkan bahwa situasi di Timur Tengah menjadi salah satu penyebabnya. Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor pemicu gejolak pasar.
"Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat," kata Irvan, seperti dikutip dari detikFinance.
Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan minyak untuk 20 hari ke depan sebagai antisipasi terhadap gejolak harga minyak dunia akibat penutupan Selat Hormuz. Saat ini, Indonesia masih mengimpor 1 juta barel minyak per hari.
"Masih cukup 20 hari," kata Bahlil saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026) ketika ditanya mengenai ketahanan energi terkini.