IHSG Melemah di Tengah Tekanan Jual Asing, Saham Ini Justru Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,53% ke level 6.989,43 pada Senin (6/4) akibat aksi jual investor asing.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (6/4), ditutup terkoreksi 0,53% di level 6.989,43. Penurunan ini, seperti dilansir dari Detik Finance, terjadi di tengah tekanan jual yang masif dari investor asing di pasar domestik.

Meskipun demikian, tidak semua saham bergerak negatif. Beberapa emiten justru mencatatkan kenaikan harga yang cukup tinggi, menjadi penopang di tengah sentimen negatif. Saham AMMN melonjak 6,91%, MSIN mengalami kenaikan impresif sebesar 16,17%, dan BUMI menguat 6,14%.

Di sisi lain, saham-saham seperti DSSA anjlok 9,34%, BREN terkoreksi 9,17%, dan BYAN melemah 5,87%, memberikan beban berat pada pergerakan indeks secara keseluruhan.

Peran investor asing menjadi salah satu faktor utama pelemahan ini. Mereka tercatat melakukan jual bersih (net sell) sebesar Rp611,26 miliar di pasar reguler. Apabila menghitung transaksi di seluruh pasar, angka jual bersih investor asing bahkan mencapai Rp622,92 miliar.

Secara sektoral, kondisi pasar juga didominasi zona merah. Delapan dari sebelas sektor mengalami pelemahan, dengan sektor infrastruktur mencatat penurunan terdalam sebesar 0,92%. Namun, sektor cyclicals menunjukkan kekuatan dengan penguatan tertinggi mencapai 2,26%.

Bursa saham Amerika Serikat justru menutup perdagangan dengan penguatan. Dow Jones naik 0,36% ke 46.669, S&P 500 menguat 0,44% ke 6.611, dan Nasdaq juga meningkat 0,54% ke 21.996. Kenaikan ini didukung oleh data PMI ISM sektor jasa yang mengindikasikan pertumbuhan ekonomi AS pada Maret.

Sayangnya, sentimen positif dari pasar global belum cukup untuk mengangkat pasar domestik. IHSG masih berada dalam tekanan akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dan fiskal. Gangguan pasokan di sektor migas yang dipicu oleh konflik di Iran turut memperkeruh sentimen. Ini tercermin dari pelemahan ETF EIDO sebesar 1,03% dan indeks MSCI Indonesia yang turun 0,61%.

Berita Emiten Terkini

PT Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,11 triliun pada tahun 2025, angka yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya di Rp2,10 triliun. Kenaikan pendapatan perusahaan mencapai 2,43% menjadi Rp9,53 triliun, sebagian besar didorong oleh bisnis inti penyewaan menara telekomunikasi yang menyumbang Rp8,83 triliun. Namun, beban pokok pendapatan juga naik 4,90% menjadi Rp4,72 triliun. Secara teknikal, saham MTEL berpotensi menguat ke level Rp630 setelah kemunculan pola doji.

Di sisi lain, PT Alamtri Resources Indonesia (ADRO) memutuskan untuk menaikkan nilai program buyback saham dari Rp4 triliun menjadi Rp5 triliun. Kebijakan ini diperkirakan hanya akan memberikan tambahan terbatas pada laba per saham (EPS), dari US$0,015 menjadi US$0,016. Konsekuensinya, ekuitas perusahaan berpotensi turun dari US$5,00 juta menjadi US$4,70 juta. Rencana buyback ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 17 April dan akan mulai dilaksanakan pada 18 April selama periode 12 bulan. Saham ADRO sendiri masih berada dalam tren naik, meskipun cenderung bergerak mendatar di rentang Rp2.450 hingga Rp2.570.

Recommended