IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 7.378 Jumat Pagi

IHSG dibuka turun 0,01 persen ke posisi 7.378,07 pada Jumat, 24 April 2026, tertekan aksi jual asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka cenderung melemah tipis sebesar 0,53 poin atau 0,01 persen ke level 7.378,07 pada pembukaan perdagangan Jumat, 24 April 2026 pagi. Penurunan ini dipicu oleh sentimen global yang belum stabil serta tekanan arus modal keluar dari pasar domestik.

Kondisi serupa dialami oleh Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan dengan pelemahan sebesar 1,51 poin atau 0,10 persen ke posisi 715,75. Berdasarkan data yang dilansir dari Medcom, pasar saham Indonesia masih menunjukkan volatilitas tinggi akibat pengaruh dinamika eksternal.

Tekanan pasar diperkuat oleh kinerja negatif bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street pada penutupan perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average merosot 0,36 persen, diikuti S&P 500 yang melemah 0,41 persen, dan Nasdaq Composite yang terkoreksi paling dalam sebesar 0,89 persen.

Pada hari sebelumnya, IHSG sempat mencatatkan koreksi signifikan sebesar 2,16 persen yang didorong oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,36 triliun di pasar reguler. Situasi ini diperparah oleh ketidakpastian geopolitik global yang membuat harga minyak dunia tetap berada di level tinggi.

Dari sektor mata uang, rupiah terpantau mengalami pelemahan terhadap dolar AS ke kisaran Rp17.300 dari posisi sebelumnya di level Rp17.000. Penguatan dolar AS dan aliran modal keluar dari pasar keuangan dalam negeri menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar rupiah dan indeks saham.

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG pada hari ini akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang terbatas. Secara teknikal, indeks diperkirakan akan menguji area support pada kisaran 7.305 hingga 7.300, dengan level resistance terdekat di 7.460 sampai 7.500.

"Arah pergerakan pasar akan dipengaruhi sentimen eksternal, stabilitas rupiah, dan arus dana asing," jelas Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas dalam keterangannya. Pelaku pasar kini terus mencermati stabilitas nilai tukar dan volume transaksi investor asing di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.

Recommended