IHSG Menguat 1,43 Persen ke 7.149, Didorong Sentimen Positif Global

IHSG dibuka menguat 1,43 persen ke level 7.149,25 pada Rabu (1/4/2026), didorong sentimen positif pasar global dan harapan deeskalasi konflik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, 1 April 2026. Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melonjak 1,43 persen menuju level 7.149,25.

Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif dari pasar global, terutama kinerja bursa saham Amerika Serikat (AS) yang menguat. Harapan meredanya konflik di Timur Tengah juga turut menjadi faktor pendorong penguatan.

Seperti dilansir dari Medcom dan Antara, penguatan IHSG sejalan dengan kinerja positif Wall Street. Pada perdagangan sebelumnya, indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,49 persen ke 46.341,51, S&P 500 menguat 2,91 persen ke 6.528,52, dan Nasdaq melesat 3,83 persen ke 21.590,63.

Sentimen positif lainnya datang dari harapan deeskalasi konflik antara AS dan Iran. Laporan yang menyebut Presiden AS Donald Trump terbuka untuk mengakhiri perang tanpa membuka Selat Hormuz secara besar-besaran, serta kesiapan Iran untuk berdamai dengan jaminan keamanan, turut meredakan kekhawatiran pasar global.

Indeks saham unggulan LQ45 juga mencatatkan kenaikan. Kelompok 45 saham unggulan ini naik 11,78 poin atau 1,65 persen, mencapai level 727,59.

Meskipun Menguat, Tekanan Jual Tetap Membayangi

Meskipun dibuka menguat, IHSG sempat ditutup melemah 0,61 persen ke level 7.048 pada perdagangan sebelumnya. Tekanan jual asing tercatat cukup besar, mencapai Rp1,17 triliun. Aksi ambil untung (profit taking) dan dominasi perdagangan jangka pendek menjadi faktor penekan indeks.

Menurut analis dari BRI Danareksa Sekuritas, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan masih terbatas, dengan potensi kecenderungan melemah. Area support berada di kisaran 6.950 hingga 7.000, sementara area resistance di 7.100 hingga 7.140. Pasar akan terus mencermati arah kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga minyak mentah.

Sentimen Domestik dan Kebijakan Pemerintah

Dari dalam negeri, beberapa kebijakan pemerintah turut memengaruhi dinamika pasar. Keputusan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan non-subsidi menjadi perhatian pelaku pasar.

Kebijakan ini, meski bertujuan menjaga daya beli masyarakat, berpotensi meningkatkan beban subsidi dan memperlebar risiko defisit APBN. Selain itu, aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai kenaikan batas minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen yang berlaku sejak 31 Maret 2026 juga menjadi sorotan.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi ASN setiap hari Jumat, mulai 1 April 2026, yang akan ditinjau dalam dua bulan ke depan. Percepatan implementasi B50 untuk kemandirian energi dan efisiensi anggaran kementerian/lembaga hingga Rp130 triliun juga menjadi bagian dari upaya ekonomi domestik.

Data Ekonomi yang Dinantikan

Pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi domestik penting. Indeks Manufacturing PMI Maret 2026 diperkirakan melambat menjadi 51,2 dari sebelumnya 53,8, kemungkinan karena hari libur keagamaan.

Neraca perdagangan Februari 2026 diproyeksikan mencatat surplus sebesar 1,2 miliar dolar AS, meningkat dari 0,9 miliar dolar AS pada Januari 2026. Sementara inflasi Maret 2026 diperkirakan mencapai 0,3 persen secara bulanan (mtm) dan 4,9 persen secara tahunan (yoy).

Daftar Saham Paling Banyak Dibeli Asing

Di tengah tekanan jual, investor asing masih melakukan akumulasi pada sejumlah saham. Berikut adalah 10 saham dengan nilai beli bersih (net foreign buy) terbesar pada perdagangan Selasa (31/3/2026), dilansir dari CNBC Indonesia:

  • PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) – Rp62,5 miliar
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – Rp39,3 miliar
  • PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) – Rp25,4 miliar
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) – Rp23,5 miliar
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) – Rp22,5 miliar
  • PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) – Rp19,4 miliar
  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) – Rp16,6 miliar
  • PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) – Rp16,6 miliar
  • PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) – Rp14,8 miliar
  • PT Star Pacific Tbk (STAR) – Rp13,8 miliar

Recommended