Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan bahwa 63 persen konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite berasal dari kelompok rumah tangga menengah ke atas pada Kamis (23/4/2026).
Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi subsidi energi di Indonesia masih belum tepat sasaran karena mayoritas dinikmati oleh masyarakat dengan daya beli tinggi. Data tersebut merupakan hasil kajian mendalam yang dilakukan lembaga riset tersebut sepanjang tahun 2023.
Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, memaparkan data tersebut dalam diskusi bertajuk Menuju Elektrifikasi Kendaraan Tanpa Bocor Anggaran di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Berdasarkan kajian INDEF di tahun 2023, sekitar 63% dari mereka yang mengonsumsi Pertalite itu berasal dari rumah tangga berpendapatan menengah ke atas," ujar Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF.
Andry memberikan penegasan bahwa pemberian subsidi saat ini masih berbasis pada komoditas, yang membuka celah bagi kalangan tidak layak untuk ikut mengonsumsi produk bersubsidi. Hal ini menciptakan ketidakadilan akses bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
INDEF mendorong pemerintah untuk segera mengubah skema subsidi agar diberikan langsung kepada individu atau penerima manfaat, bukan lagi pada produknya. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga kesehatan fiskal negara dari tekanan geopolitik global.
Ketergantungan pada subsidi komoditas membuat beban anggaran negara semakin berat saat harga minyak dunia bergejolak. Peningkatan ketahanan energi nasional diharapkan dapat memperkuat posisi fiskal Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.