Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengumumkan bahwa Indonesia berhasil mengamankan komitmen pasokan nafta, bahan baku utama plastik, dari India, Afrika, dan Amerika Serikat. Langkah ini diambil menyusul gangguan rantai pasok dari kawasan Timur Tengah akibat konflik geopolitik. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan, inisiatif ini merupakan solusi jangka pendek untuk menjaga stabilitas industri dalam negeri, dilansir dari Detik Finance.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik, dengan sekitar 55 persen pasokan berasal dari luar negeri. Dari jumlah tersebut, 70 persen distribusinya melalui Selat Hormuz, jalur yang kini terpengaruh oleh gejolak di Timur Tengah. Kondisi ini menyebabkan lonjakan harga plastik di kisaran 40 hingga 60 persen, bahkan mencapai 80 persen, menekan keuntungan pelaku UMKM.
Selain mengamankan pasokan nafta, pemerintah juga merancang strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku berbasis fosil. Diversifikasi bahan baku plastik ke biomaterial seperti rumput laut dan singkong menjadi fokus utama. Maman Abdurrahman menjelaskan, rumput laut telah diteliti sebagai alternatif potensial, meskipun biaya produksinya masih tinggi karena skala produksi yang kecil dan keterbatasan pasar domestik.
Pemerintah berencana mendorong kebijakan industrialisasi yang berpihak pada permintaan pasar guna menekan biaya produksi bioplastik. Beberapa UMKM kategori kecil dan menengah dilaporkan sudah mulai memproduksi plastik dari rumput laut dan singkong. Namun, sebagian besar produk mereka lebih banyak terserap oleh pasar luar negeri.
Dampak Kenaikan Harga bagi UMKM
Maman menjelaskan, kenaikan harga plastik berdampak signifikan pada pelaku UMKM. Meski beban produksi meningkat, banyak UMKM memilih untuk tidak menaikkan harga jual produk mereka demi mempertahankan loyalitas pelanggan. Hal ini secara langsung menekan margin keuntungan mereka.
Data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa kelangkaan nafta telah menurunkan kapasitas produksi plastik, bahkan menyebabkan sejumlah lini produksi terhenti. Ini berdampak pada penurunan omzet pengusaha UMKM hingga 50 persen, mengingat mayoritas pengusaha makanan dan minuman masih bergantung pada kemasan plastik.
Upaya Pemerintah dan Dukungan Industri Lokal
Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan, sedang menyiapkan proses administrasi untuk memuluskan jalur distribusi nafta dari sumber-sumber alternatif. Evaluasi terhadap ketergantungan impor dari wilayah berisiko tinggi juga dilakukan untuk memperkuat ketahanan industri nasional.
Dorongan terhadap penggunaan bahan baku alternatif seperti bambu, rumput laut, dan singkong juga dilihat sebagai peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal. Maman menambahkan, “Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal.”
Kementerian UMKM berkomitmen memperkuat dukungan bagi UMKM yang memproduksi bioplastik, dengan harapan dapat meningkatkan skala produksi dan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Jika kebijakan substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut berhasil didorong, biaya operasional dan produksi berpotensi turun, sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi UMKM.
Peran Masyarakat dalam Pengurangan Plastik
Pemerintah juga mengkaji berbagai kebijakan pendukung, seperti subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, serta pelatihan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk turut berperan aktif dengan mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang. Ini menjadi bagian dari upaya kolektif untuk menjaga lingkungan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.