Indonesia Hadapi Tantangan Pangan Akibat Konflik dan El Nino

Sektor pangan Indonesia menghadapi tantangan ganda dari konflik Timur Tengah dan siklus El Nino yang diperkirakan mulai April 2026.

Sektor pangan Indonesia dihadapkan pada dua masalah utama: ketegangan di Timur Tengah dan ancaman El Nino. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel memperburuk situasi, sementara El Nino diperkirakan akan dimulai pada April 2026.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa Indonesia memiliki pengalaman dalam mengatasi El Nino, bahkan yang lebih ekstrem seperti pada 2015-2016 dan 2023. Pada El Nino 2023, perkiraan impor beras sempat mencapai 10 juta ton, tetapi berhasil ditekan menjadi 3 juta ton.

"Jadi, ada dua kita hadapi, kondisi geopolitik memanas dan pengumuman BMKG ada kekeringan. Ini dua-dua harus kita jawab. Kita ada pengalaman menghadapi El Nino yang paling keras. Ini kan El Nino, nanti bulan 4. El Nino kita hadapi yang paling dahsyat 2023, Ahamdulillah kita bisa lolos. Dari rencana impor waktu itu 10 juta, kami ikut ratas, alhamdulillah kita bisa redam hanya 3 juta lebih," katanya dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).

Menurut Andi, El Nino yang diperkirakan terjadi tahun ini tidak separah sebelumnya, sehingga diharapkan dapat diatasi dengan lebih baik. Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai infrastruktur untuk menghadapi potensi kekeringan.

Salah satu langkahnya adalah program pompanisasi yang dapat menjangkau 1,2 juta hektare lahan pertanian yang kekurangan air. Selain itu, disiapkan pula tambahan 1 juta hektare lahan yang bisa diairi selama kemarau melalui pompa, sumur dalam, dan jaringan irigasi.

Dengan persiapan ini, Andi optimistis produksi pangan nasional akan tetap terjaga. Produksi beras nasional saat ini berada di kisaran 2,6-5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan.

"Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare. Pompa coverage-nya bisa menjangkau pompa kita 1,2 juta hektare yang tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare. Jadi, 2 juta nanti kita siapkan yang pada saat musim kering bisa kita airi. Pompanisasi sungai-sungai dan seluruhnya, sumur dalam, sumur dangka kita sudah siapkan. Jadi, infrastruktur sudah siap," tegas Amran.

Dengan pengalaman menghadapi El Nino dan infrastruktur yang ada, Andi memastikan Indonesia mampu mengatasi potensi kekeringan serta menjaga ketahanan pangan di tengah ketidakpastian global.

"Jadi ke depan insyaallah produksi kita aman. Jadi menghadapi geopolitik ini yang memanas dan menghadapi El Nino kita sudah ada pengalaman. Kami secara pribadi menghadapi di 2015-2016, kemudian 2023, dan itu jauh lebih dahsyat daripada sekarang, jadi ini nggak usah kita risaukan," sebut Amran.

Pemerintah telah menghitung cadangan pangan nasional dan memastikan pasokan cukup untuk jangka panjang. Menurut Andi, cadangan pangan Indonesia saat ini bisa bertahan hingga 324 hari.

Cadangan tersebut berasal dari stok beras di Perum Bulog sekitar 3,7 juta ton dan potensi produksi dari standing crop atau padi yang siap panen sekitar 10-11 juta ton.

"Alhamdulillah setelah kami menghitung kekuatan pangan kita dengan kondisi geopolitik yang memanas, pangan kita, cadangan kita sampai dengan hari ini itu tersedia sampai dengan 324 hari," terang Amran.

Amran menambahkan bahwa angka 324 hari tidak berarti produksi pangan akan berhenti setelah itu. Pemerintah memastikan produksi pangan tetap berjalan rutin setiap bulan.

"Produksi kita terus berjalan setiap bulan antara 2,6 juta sampai 5,3 juta ton. Jadi, insyaallah pangan kita aman," tutup Amran.

Recommended