Posisi Indonesia tetap terjaga di tengah krisis geopolitik global yang menimbulkan gangguan serius pada pasokan pupuk dunia. Menurut Direktur Utama Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi, gangguan distribusi melalui Selat Hormuz menyebabkan sekitar 10 juta ton kapasitas urea per tahun menghilang dari pasar global.
Di sisi lain, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor urea, dengan volume ekspor antara 1,5 hingga 2 juta ton per tahun. Dengan kondisi ini, pasokan pupuk nasional dipastikan aman meskipun terjadi gejolak di tingkat global. Hal ini seperti dilansir dari Detik Finance.
Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa Indonesia justru berperan sebagai pengekspor urea, sementara pasokan yang terhambat di Selat Hormuz sebagian besar adalah pupuk urea. "Berarti dari kapasitas yang ada di Selat Hormuz di 10 juta ton kapasitas per tahun itu hilang dari pasar. Indonesia, Pupuk Indonesia itu mengekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton. Jadi posisi kita untuk pupuk akibat dari geopolitik ini semuanya aman," kata Rahmad di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (30/3/2026).
Rahmad menambahkan bahwa Indonesia bahkan berpotensi menjadi salah satu penyelamat ekosistem pangan dunia. Ketika pasokan urea global terganggu akibat konflik di Timur Tengah, Indonesia hadir sebagai negara eksportir yang posisinya stabil.
"Tapi yang ingin saya jelaskan, di posisi geopolitik dinamika sekarang ini, Indonesia malah bisa menjadi salah satu penyelamat ekosistem pangan dunia. Kenapa? Karena dunia sedang kehilangan suplai urea dan Indonesia adalah negara eksportir urea," tambahnya.
Sejumlah negara menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama pasokan pupuk dengan Indonesia. Rahmad mengungkapkan bahwa pemerintah India dan Australia dijadwalkan akan melakukan pertemuan khusus untuk membahas pasokan pupuk. Banyak negara kini memandang Indonesia sebagai mitra strategis di tengah terganggunya rantai pasok pupuk global.
Rahmad menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat sepenuhnya menggantikan total pasokan global yang hilang. Prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan pupuk di dalam negeri. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, ekspor dilakukan untuk menjaga keseimbangan pasar.
Untuk jenis pupuk NPK, yang masih sangat bergantung pada impor, Rahmad memastikan pasokannya tetap aman. Distribusi NPK tidak melalui Selat Hormuz, sehingga tidak terpengaruh oleh gangguan di jalur tersebut. Meskipun biaya logistik global mengalami kenaikan, hal ini dinilai merata pada semua komoditas dan tidak memberikan tekanan khusus pada sektor pupuk.