Kawasan Asia-Pasifik (APAC) dinilai sangat strategis bagi Kaspersky, dengan beberapa segmen spesifik menjadi pendorong utama pendapatan perusahaan keamanan siber ini.
Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, menyampaikan bahwa segmen yang berkaitan dengan digital dan perlindungan merek menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Menurut Adrian, bisnis threat intelligence, termasuk layanan ahli, perlindungan merek, jejak digital, dan analisis bisnis akan terus berkembang. "Saya pikir bagian dari threat intelligence, termasuk layanan ahli, perlindungan merek, jejak digital, bisnis analisis, saya pikir bagian bisnis ini akan terus tumbuh dengan baik," kata Adrian kepada Medcom.id di Hotel Sheraton, Tsim Sha Tsui, Hong Kong, Selasa 3 Maret 2026.
Adrian menambahkan bahwa Kaspersky dipandang sebagai pemimpin dalam menyediakan threat intelligence, dengan sebagian besar pelanggan berasal dari pemerintah. "Bahkan di Frost Radar, kami telah dipandang sebagai pemimpin dalam menyediakan threat intelligence. Dan kembali apa yang kami bagikan, sebagian besar pelanggan merupakan pemerintah yang membeli threat intelligence dari kami. Jadi, dari sisi produk, saya pikir itu akan terus tumbuh sekarang dan 24 bulan ke depan," sambungnya.
Selain itu, segmen IT juga masih memiliki potensi pertumbuhan, terutama dalam hal konvergensi IT dan OT (Operational Technology). Konvergensi ini diatur oleh SMOP (Open Single Management Platform).
Minat yang tinggi terlihat pada keamanan OT karena banyak pelanggan menyadari kerentanan mereka tidak hanya pada sisi IT korporat. Keamanan menjadi perhatian utama ketika perangkat OT terhubung ke internet, seperti pada industri 4.0, industri 5.0, pabrik pintar, atau smart metering untuk distribusi listrik.
Kaspersky juga melihat peningkatan investasi di bidang keamanan siber dari UMKM, terutama di Indonesia, di mana 90 persen bisnis berasal dari sektor ini. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Kaspersky meluncurkan produk baru XDR Optimum yang dirancang khusus untuk pasar UMKM.
Produk ini cocok untuk perusahaan menengah dengan 300-800 karyawan yang membutuhkan perlindungan siber tetapi tidak memiliki tim IT besar. Dalam hal ini, otomatisasi dan AI menjadi penting. "Mungkin lebih tepat untuk perusahaan menengah dengan 300-800 karyawan, bukan sebesar bank atau perusahaan telko, tapi juga bukan toko kecil dengan karyawan 5-10 orang. Mereka butuh perlindungan siber, tetapi tidak punya tim IT besar. Di sinilah, otomatisasi dan AI-driven menjadi penting. Jadi, tiga area ini kami melihat punya potensi besar di Asia," papar Adrian.