Investor institusi mencatatkan lonjakan dana masuk atau inflow ke produk Exchange Traded Fund (ETF) Ethereum senilai US$127,4 juta atau setara Rp 2 triliun pada perdagangan Senin (27/4/2026). Fenomena ini menandakan penguatan adopsi aset kripto sebagai instrumen investasi formal di pasar global.
Dilansir dari Detik Finance, produk investasi dari Fidelity (FETH) menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$84,1 juta. Sementara itu, produk milik BlackRock (ETHA) menempati posisi kedua dengan aliran dana mencapai US$30,8 juta dalam periode yang sama.
Kenaikan minat ini didorong oleh aksesibilitas yang semakin luas melalui platform broker dan penyedia layanan ETF. Hal tersebut memudahkan investor berskala besar untuk menempatkan modal mereka ke dalam ekosistem Ethereum tanpa harus mengelola aset digital secara langsung.
Pengamat kripto Indonesia, Isybel Harto, menyatakan bahwa masuknya institusi melalui ETF telah memperkuat narasi jangka panjang bagi Ethereum di mata pelaku pasar. Strategi investor kini mulai bergeser dari sekadar spekulasi harga menuju analisis nilai aset yang lebih mendalam.
"Masuknya institusi melalui ETF memang memperkuat narasi jangka panjang Ethereum. Tapi di sisi lain, investor mulai berpikir lebih dalam-tidak hanya soal kenaikan harga, tapi bagaimana aset tersebut bisa menghasilkan secara konsisten," ujar Isybel Harto.
Kondisi pasar yang fluktuatif membuat investor bersikap lebih rasional dalam menyeimbangkan potensi keuntungan modal dengan pendapatan tetap. Isybel menambahkan bahwa setiap instrumen tetap memiliki risiko dan tidak ada imbal hasil yang diperoleh tanpa adanya pertukaran nilai atau trade-off.
Munculnya pendekatan investasi berbasis pendapatan kini mulai diminati, seperti yang dikembangkan oleh platform Varntix. Perusahaan tersebut dilaporkan telah menghimpun dana sekitar US$20 juta melalui putaran pendanaan privat untuk mengembangkan instrumen kripto dengan imbal hasil stabil.
Model investasi ini menawarkan skema tetap dengan penguncian dana pada periode tertentu yang menjanjikan imbal hasil hingga 24 persen per tahun. Selain itu, tersedia skema fleksibel yang menawarkan likuiditas lebih tinggi dengan penyesuaian imbal hasil secara berkala bagi para investor.
Pembayaran imbal hasil pada model tersebut umumnya dilakukan menggunakan stablecoin seperti USDT atau USDC. Penggunaan mata uang stabil ini bertujuan untuk meminimalisir dampak volatilitas harga yang biasanya terjadi pada aset kripto murni di pasar terbuka.
Sebagai ilustrasi, penempatan dana sebesar US$12.000 dengan proyeksi imbal hasil 20 persen dapat menghasilkan keuntungan sekitar US$2.400 dalam setahun. Pengelolaan dana tersebut dilakukan melalui diversifikasi ke berbagai aset guna menekan profil risiko investasi digital.