Kemenangan tim Borneo FC atas Madura United dengan skor 3-1 dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026 pada Minggu (5/4/2026) di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, diwarnai sebuah insiden tidak menyenangkan. Peristiwa ini terjadi di luar lapangan setelah pertandingan selesai.
Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan momen ketegangan ketika rombongan pemain Borneo FC harus turun dari kendaraan. Mereka mengejar pihak yang diduga melakukan pelemparan batu ke arah bus yang ditumpangi tim. Kejadian ini menjadi sorotan publik dan memicu reaksi dari berbagai kalangan.
Insiden tersebut tidak hanya mencoreng jalannya pertandingan, tetapi juga dinilai merusak citra sepak bola daerah, khususnya di Madura. Panitia Pelaksana (Panpel) Madura United segera memberikan klarifikasi dan menyampaikan sikap resmi mereka atas kejadian tersebut, seperti dilansir dari Bola.
Moh. Alwi, Ketua Panpel Madura United, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas tindakan oknum suporter. Menurutnya, aksi tersebut melanggar nilai-nilai sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi dalam sepak bola.
“Panpel Madura United FC menyampaikan kekecewaan yang mendalam atas tindakan salah satu oknum suporter yang telah melakukan perbuatan di luar nilai-nilai sportivitas sepak bola,” ujar Moh. Alwi.
Ia menegaskan bahwa rivalitas dalam sepak bola semestinya hanya terbatas di dalam lapangan selama 90 menit pertandingan. Di luar itu, semua pihak diharapkan terikat pada nilai kebersamaan dan persaudaraan.
Alwi juga menyoroti pentingnya nilai-nilai lokal masyarakat Madura, seperti semangat “Madruji” yang menekankan perdamaian, kerukunan, dan perilaku terpuji. Ia menambahkan bahwa sikap rendah hati, saling menghormati, serta menjunjung tinggi etika dan sopan santun harus menjadi dasar dalam setiap tindakan, termasuk dalam memberikan dukungan kepada tim.
Manajemen Siap Proses Hukum dan Jaga Integritas Sepak Bola
Sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden pelemparan bus, Panpel Madura United secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada pihak Borneo FC. Selain itu, manajemen juga memastikan kesiapan mereka untuk bersikap kooperatif dengan aparat penegak hukum dalam mengusut tuntas kejadian tersebut.
“Tidak ada pembenaran atas tindakan yang terjadi. Kami mengutuk keras segala bentuk perilaku yang mencederai sportivitas dan semangat fair play,” tegas Moh. Alwi. Ia juga menambahkan, “Kami siap mendukung penuh setiap proses serta langkah yang akan diambil oleh pihak berwenang.”
Langkah tegas ini merupakan bagian dari komitmen Madura United dalam menjaga integritas sepak bola Indonesia. Manajemen berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, terutama para suporter, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.