Arus modal asing ke Indonesia mencatatkan performa positif dengan realisasi mencapai Rp498,79 triliun pada kuartal I 2026, yang setara dengan 100,36 persen dari target pemerintah. Capaian tersebut tumbuh sebesar 7,22 persen secara tahunan di tengah ketidakpastian geopolitik global yang dilaporkan pada Rabu, 6 Mei 2026.
Dilansir dari Medcom, laporan Kearney FDI Confidence Index (FDICI) 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 dalam kategori pasar berkembang. Posisi ini mengalami penurunan satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya, meski mayoritas responden tetap optimis terhadap prospek investasi nasional.
Komposisi penanaman modal antara investasi asing (FDI) dan dalam negeri (PMDN) tercatat seimbang di angka 50 persen. Singapura menjadi kontributor terbesar dengan nilai USD4,6 miliar, diikuti Hong Kong sebesar USD2,7 miliar, Tiongkok USD2,2 miliar, Amerika Serikat USD1,7 miliar, dan Jepang USD1 miliar.
Sektor logam dasar menjadi daya tarik utama dengan realisasi FDI mencapai USD14,6 miliar pada tahun 2025, disusul sektor pertambangan senilai USD4,7 miliar. Investor global menyoroti ketersediaan tenaga kerja terampil serta kekayaan sumber daya alam nikel sebagai faktor krusial daya saing Indonesia.
"Indonesia telah menerapkan strategi terkoordinasi yang menggabungkan kebijakan industri, reformasi regulasi, insentif yang terarah, serta target investasi untuk memperdalam hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah," ujar Shirley Santoso, President Director Kearney Indonesia sekaligus co-author laporan tersebut.
Meskipun optimisme tinggi, survei menunjukkan 87 persen responden tetap waspada terhadap risiko global, terutama ketegangan geopolitik yang mencapai 36 persen pengaruh. Selain itu, kenaikan harga komoditas dan stabilitas politik di pasar maju turut menjadi pertimbangan utama investor dalam satu tahun ke depan.
Kearney mencatat bahwa kebijakan industri nasional yang saling bersaing menjadi risiko bisnis bagi sembilan dari sepuluh investor. Di kawasan Asia, negara-negara seperti Thailand dan Malaysia berhasil memperbaiki peringkat mereka masing-masing ke posisi ke-6 dan ke-7 melalui strategi diversifikasi rantai pasok.
Guna mempertahankan kepercayaan investor, laporan tersebut merekomendasikan pemerintah Indonesia untuk memperkuat kepastian regulasi dan mempercepat transisi energi. Peningkatan tata kelola yang transparan serta pembangunan infrastruktur digital dinilai menjadi kunci penguatan daya saing dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara.