Iran Tuduh Amerika Serikat Sabotase Jaringan Internet Lewat Backdoor

Pemerintah Iran menduga Amerika Serikat menanamkan backdoor dan botnet pada perangkat keras untuk melumpuhkan jaringan internet nasional saat konflik.

Pemerintah Iran secara resmi melayangkan tuduhan terhadap Amerika Serikat terkait penggunaan pintu belakang tersembunyi atau jaringan botnet pada infrastruktur komunikasi nasional mereka pada Kamis, 23 April 2026. Sabotase ini diklaim terjadi bersamaan dengan berlangsungnya operasi militer di wilayah tersebut.

Tudingan tersebut muncul setelah terjadi kegagalan massal pada perangkat keras buatan vendor global seperti Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, perangkat-perangkat krusial tersebut dilaporkan mengalami proses muat ulang mendadak atau terputus sepenuhnya dari jaringan.

Kantor berita Fars dan Entekhab melaporkan bahwa pihak otoritas Teheran meyakini insiden ini merupakan bentuk sabotase terencana dan bukan kendala teknis biasa. Fenomena ini menjadi perhatian karena terjadi saat Iran tengah mengisolasi sebagian besar koneksi internetnya dari jaringan global.

Terdapat dua skenario utama yang dicurigai oleh para pakar di Iran, yakni penyisipan kode berbahaya langsung ke dalam firmware perangkat sebagai bom waktu. Skenario kedua menduga adanya botnet rahasia yang diaktifkan secara otomatis segera setelah serangan militer dimulai oleh pihak lawan.

Verifikasi independen terhadap klaim ini sulit dilakukan mengingat pembatasan akses internet yang dilakukan sendiri oleh pemerintah Iran telah memasuki hari ke-50. Lembaga pemantau NetBlocks mencatat akses konektivitas saat ini sangat terbatas dan hanya tersedia bagi kelompok tertentu melalui sistem khusus.

Kecurigaan Iran didasarkan pada sejarah celah keamanan vendor-vendor terkait, seperti dokumen bocoran Edward Snowden tahun 2014 tentang router Cisco. Selain itu, Juniper pernah melaporkan adanya kode tidak sah pada ScreenOS di tahun 2015, sementara MikroTik sering kali menjadi sasaran eksploitasi botnet.

Pemerintah Tiongkok melalui media resminya turut mengamplifikasi tuduhan Iran ini dengan menyebut Washington sebagai adidaya penyedia akses pintu belakang di dunia maya. Meski pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan spesifik ini, mereka telah mengakui adanya kampanye militer siber bernama Operation Epic Fury.

Recommended