Sebanyak 50 persen sampah di Indonesia dilaporkan berakhir di sungai atau jalan raya. Kondisi memprihatinkan ini sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk membayar iuran pengelolaan sampah bulanan. Fenomena ini menjadi salah satu pemicu utama bagi percepatan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) yang digagas oleh Danantara.
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menjelaskan bahwa data ini merujuk pada hasil penelitian Bank Dunia. Menurutnya, masalah utama adalah iuran yang relatif kecil, yaitu Rp10.000 hingga Rp15.000 per rumah tangga setiap bulan, yang tidak mampu dibayar oleh banyak warga, demikian dilansir dari Detik Finance.
Rohan Hafas menekankan bahwa ketidakmampuan membayar iuran tersebut mendorong masyarakat membuang sampah secara sembarangan di tepi jalan atau kali. Hal ini memperparah masalah pencemaran lingkungan dan beban pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah.
Iuran yang dikumpulkan oleh warga seharusnya digunakan untuk biaya pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) atau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun, sistem ini dianggap kurang efisien karena pemerintah daerah masih harus menanggung biaya sewa lahan TPA yang tinggi, seperti TPA Bantar Gebang di Jakarta.
Proyek Waste-to-Energy (WtE) sebagai Solusi
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah bersama Danantara tengah mempercepat proyek Waste-to-Energy (WtE). Proyek ini bertujuan agar sampah dapat diangkut secara gratis dari rumah tangga, sehingga masyarakat tidak lagi memiliki alasan untuk membuang sampah sembarangan.
Rohan Hafas menjelaskan, proyek WtE akan membebaskan pemerintah daerah dari biaya sewa lahan TPA yang mahal. Dengan demikian, sampah akan langsung diangkut dan diolah menjadi energi listrik di pabrik WtE yang akan dibangun.
Target dan Dampak Proyek PSEL
Danantara menargetkan pembangunan beberapa proyek WtE dapat dimulai paling lambat Juli 2026. Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menyebutkan bahwa groundbreaking bisa dilakukan antara April hingga Juni 2026. Empat proyek pertama akan berlokasi di Bekasi, Denpasar, dan Bogor.
Pembangunan fasilitas ini diperkirakan memakan waktu hingga dua tahun. Namun, untuk dua proyek awal di Bekasi dan Denpasar, mitra terkait berkomitmen untuk menyelesaikannya lebih cepat, dengan target beroperasi pada akhir 2027 dan awal 2028 untuk Bekasi. Selain itu, Danantara juga menyiapkan pembangunan tahap kedua di sekitar 25 kota lain, yang sebagian besar adalah ibu kota provinsi.
Berdasarkan kajian konsultan independen, satu proyek WtE dengan kapasitas 1.000 ton per hari dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga Rp14 triliun dalam kurun waktu 30 tahun. Apabila proyek ini berjalan di 33 kota, dampaknya akan sangat signifikan terhadap lingkungan dan ekonomi nasional. Diperkirakan dapat mengolah sekitar 400.000 ton sampah per tahun, mengurangi 360.000 ton emisi karbon, serta menciptakan hingga 130.000 lapangan kerja. Listrik yang dihasilkan juga mampu memenuhi kebutuhan sekitar 20.000 rumah tangga.