Menjelang Hari Raya Idul Fitri, permintaan akan uang nominal kecil meningkat, mendorong sebagian masyarakat untuk menukarkan uang baru. Namun, tingginya permintaan seringkali membuat masyarakat kesulitan mendapatkan uang baru dari sumber resmi, sehingga jasa penukaran uang di pinggir jalan menjadi alternatif.
Di kawasan Asemka, Jakarta Barat, jasa penukaran uang menawarkan berbagai pecahan, mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 20.000. Tarif yang dikenakan bervariasi, tergantung pada pecahan yang diinginkan. Penelusuran detikcom pada Senin (9/3/2026) menemukan setidaknya 13 penyedia jasa ini di satu titik.
Tarif penukaran uang pecahan Rp 2.000 mencapai 25%, sedangkan pecahan Rp 5.000 sebesar 15%. Untuk pecahan Rp 10.000 dan Rp 20.000, tarifnya 10%. Tarif ini berlaku untuk setiap kelipatan Rp 100.000, namun diskon mungkin tersedia untuk penukaran dalam jumlah besar.
Seorang pedagang yang telah 10 tahun beroperasi di Asemka menjelaskan, "Beda-beda, kita hitung per Rp 100.000. Ini (pecahan Rp 2.000) Rp 125.000, kalau yang ini (Rp 5.000) jadi Rp 115.000. Ini (pecahan Rp 10.000) sama ini (Rp 20.000) sama, jadi Rp 110.000."
Pedagang tersebut menambahkan, "Jadi mau ambil berapa, itu sama semua tarifnya segitu. Tinggal ikutin persenannya saja. Kaya ini (pecahan Rp 5.000) segepok isi Rp 500.000, jadi Rp 650.000. Tapi kalau ambil besar bisa lah kita korting-korting (diskon) berapa."
Dengan tarif tersebut, menukar Rp 1.000.000 dalam pecahan Rp 2.000 akan membutuhkan Rp 1.250.000, termasuk biaya jasa penukaran Rp 250.000.
Uniknya, jasa ini juga melayani penukaran non-tunai melalui transfer bank ke rekening pemilik usaha. Setelah transfer dikonfirmasi, pedagang akan menyerahkan uang pecahan baru kepada pembeli. "Bisa transfer. Ini rekening bos," kata pedagang tersebut.