Kampung Budidaya Dongkrak Potensi Perikanan Pulau Bungin

Program kampung budidaya perikanan diharapkan mendongkrak produktivitas masyarakat Pulau Bungin, Sumbawa, yang selama ini tekuni perikanan tangkap.

Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa, NTB, dikenal tidak hanya dengan perikanan tangkapnya, tetapi juga budi daya kerang mutiara. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan hal ini seiring dengan rencana pengembangan program kampung budi daya.

Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat yang telah lama menekuni budi daya kerang mutiara dan lobster. Trenggono menyampaikan keterangan tertulisnya pada Senin (2/3/2026).

Menurut Trenggono, potensi budi daya di Pulau Bungin perlu dimaksimalkan. Diskusi dengan bupati telah dilakukan untuk mengupayakan penerapan program budi daya perikanan tahun ini. "Pulau Bungin ini kan pulau nelayan. Kami sudah banyak diskusi dengan bupati, ternyata di sini juga mulai berkembang budi daya. Jadi, kami mengupayakan tahun ini (ada program budi daya perikanan yang bisa diterapkan), untuk memaksimalkan potensi yang ada, supaya ekonomi di sini benar-benar produktif," ujar Trenggono.

Pemerintah berencana mengimplementasikan program Kampung Budidaya Perikanan di Pulau Bungin dengan menyiapkan fasilitas budi daya seperti keramba, pendampingan teknis budi daya ikan yang baik, serta pelatihan manajemen usaha.

Program Kampung Budidaya Perikanan diharapkan dapat melengkapi program perikanan yang sudah ada di Pulau Bungin, sehingga meningkatkan produktivitas masyarakat. Pulau Bungin dihuni oleh lebih dari 1.000 kepala keluarga (KK), yang sebagian besar merupakan nelayan tradisional dengan kapal di bawah 5 gross ton. Data pemerintah daerah (Pemda) tahun 2024 mencatat komoditas utama perikanan tangkap di pulau ini adalah tongkol, cakalang, kembung, dan udang, dengan estimasi produksi maksimal mencapai 8 ton.

Kepala Desa Pulau Bungin, Jaelani, menjelaskan bahwa warganya telah belajar budi daya kerang mutiara dan lobster secara mandiri. Meskipun sudah ada panen, skalanya masih rumahan. Ia berharap program Kampung Budidaya Perikanan dapat segera diterapkan karena kondisi geografis dan kualitas air laut Pulau Bungin sangat cocok untuk kegiatan budi daya perikanan.

"Masyarakat di sini sudah lama menggeluti budidaya kerang mutiara, kalau untuk lobster mulainya pada tahun 2021. Namun tingkat keberhasilannya baru mulai terlihat sejak dua tahun lalu," tutur Jaelani.

Jaelani juga menyampaikan bahwa fasilitas KNMP yang telah dibangun di Pulau Bungin memberikan dampak positif pada peningkatan produktivitas nelayan, serta meningkatkan kunjungan masyarakat dari luar pulau. "Fasilitas KNMP alhamdulillah membantu sekali. Sebagai contoh shelter pendaratan ikan itu sangat membantu karena masyarakat biasanya bongkar hasil tangkapan menggunakan terpal, sekarang sudah lebih layak. Dermaga juga berhasil menarik wisatawan untuk berkunjung," tambah ia.

Sebagai informasi, fasilitas perikanan yang telah dibangun KKP di Pulau Bungin sejalan dengan implementasi program KNMP, meliputi dermaga, shelter pendaratan ikan, cold storage, pabrik es, balai nelayan, hingga sentra kuliner. KKP juga memberikan bantuan berupa kapal, cool box, mesin kapal, serta alat tangkap.

Recommended