John Herdman Siapkan Strategi Matang Loloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030

Pelatih Timnas Indonesia John Herdman membeberkan strategi besar dan fokus regenerasi pemain muda untuk menembus Piala Dunia 2030.

Agenda padat kini tengah dihadapi oleh pelatih Timnas Indonesia asal Inggris, John Herdman. Setelah merampungkan FIFA Series, nakhoda berusia 50 tahun tersebut langsung dihadapkan pada serangkaian kompetisi penting seperti FIFA matchday, Piala AFF, FIFA ASEAN Cup, serta Piala Asia 2027.

Target paling krusial yang diemban mantan pelatih yang sukses membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 ini adalah meloloskan skuad Garuda ke Piala Dunia 2030. Demi merealisasikan target tersebut, pemantauan terhadap talenta lokal muda di kompetisi domestik serta pemain keturunan di luar negeri terus berjalan intensif, seperti dilansir dari Bola.

Proses regenerasi dalam tubuh Timnas Indonesia dinilai menjadi aspek yang sangat krusial oleh John Herdman. Ia berkaca pada pengalaman suksesnya terdahulu saat menukangi Timnas Kanada dalam membangun kedalaman skuad.

"Menurut saya ini generasi yang sangat menarik. Hal terpenting dalam membangun sebuah tim adalah memahami timnas ini ingin dibawa ke mana pada tahun 2030. Karena di situlah semuanya benar-benar akan diuji," kata John Herdman via kanal YouTube Antara TV Indonesia.

"Dan yang harus dipahami, proses pengembangan pemain itu selalu dinamis. Pemain bisa muncul kapan saja. Saya belajar itu saat menangani Timnas Kanada."

"Tajon Buchanan misalnya, yang sekarang bermain di level top Eropa (Inter Milan), dulu bahkan belum masuk daftar. Jonathan David (Lille) juga begitu. Tidak ada yang menyangka dia bisa berkembang sejauh itu," imbuhnya.

Strategi besar untuk membawa kemajuan bagi skuad Garuda juga sempat diutarakan John Herdman dalam sesi wawancara eksklusif bersama Bola Break. Dirinya meyakini bahwa Indonesia memiliki modal berupa talenta besar, namun aspek pengembangan performa masih harus terus ditingkatkan.

Dinamika perkembangan performa pesepak bola usia muda menuntut PSSI dan jajaran tim pelatih untuk bergerak aktif dalam berburu talenta. Komunikasi serta diskusi intensif bersama direktur teknik tim nasional juga menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan.

"Jadi pertama, kita harus memahami bahwa perkembangan pemain itu sangat dinamis. Tapi kita juga harus aktif mencari. Kita harus melihat pemain usia 15 tahun," ujar John Herdman.

"Kita harus berdiskusi dengan Direktur Teknik seperti Alex Zwiers untuk memahami siapa saja pemain dalam sistem yang punya potensi berkembang lebih cepat," tambah Herdman.

Akselerasi Melalui Jam Terbang Internasional

Langkah berikutnya setelah menjaring para pemain muda potensial adalah dengan memberikan kesempatan tampil dalam pertandingan berskala internasional demi mempercepat kematangan bertanding mereka.

"Dan percepatan perkembangan itu jadi kata kunci penting. Karena tugas kami adalah mengenali pemain-pemain muda yang punya potensi besar. Lalu ketika mereka diberi pengalaman internasional lebih cepat, karier mereka bisa melonjak ke level berikutnya," John Herdman menuturkan.

"Karena mereka sudah punya profil yang cocok dan kualitas di posisinya juga menjanjikan. Jadi tanda-tandanya sudah terlihat bahwa pemain ini punya kualitas untuk berkembang lebih jauh. Tinggal bagaimana kami memberi mereka pengalaman dan kesempatan di level yang lebih tinggi. Karena dari situ ada peluang mereka bisa naik kelas lebih cepat."

"Jadi ketika saya billing perkembangan skuad itu dinamis, maksudnya pemain baru bisa muncul kapan saja. Tapi di saat yang sama, proses itu juga harus dirancang dengan jelas dan terarah. Kami harus memberi kesempatan kepada pemain muda potensial."

"Seperti Alfharezzi Buffon misalnya, pemain 19 tahun yang bermain reguler di Borneo FC. Pemain seperti itu perlu diberi kesempatan sekarang juga untuk menunjukkan kualitasnya di level lebih tinggi," tambahnya.

Pemantauan Pemain Keturunan di Berbagai Negara

Selain mengoptimalkan pilar lokal, tim pelatih juga melebarkan jangkauan radar dengan memantau perkembangan para pemain muda diaspora yang tengah meniti karier di luar negeri.

"Sebagai pelatih, saya harus benar-benar berkomitmen soal itu. Tapi di saat yang sama, kami juga ada pemain diaspora. Ada pemain muda di Jerman yang kami pantau. Ada dua pemain muda di Jerman yang sedang kami pantau," tandas John Herdman.

"Ada juga dua pemain di Belanda. Ada pemain di Australia dan Amerika Serikat. Semua sedang kami lihat potensinya untuk masa depan Timnas Indonesia. Jadi tugas kami adalah menjaga keseimbangan".

"Antara pemain muda lokal yang punya potensi besar, dengan pemain diaspora yang juga bisa menjadi bagian proyek menuju Piala Dunia 2030. Tapi yang harus dipahami di sini adalah Indonesia membutuhkan lebih banyak pemain level tier 1 dan tier 2 yang bermain di liga top dunia. Minimal di liga top Eropa atau level tepat di bawahnya".

"Kita harus bisa mengenali pemain yang punya potensi ke sana. Lalu memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Itulah misi utama departemen teknis Timnas Indonesia saat ini," tutup John Herdman.

Recommended