KCI Finalisasi Pengadaan 30 Rangkaian Kereta Komuter Tambahan

PT KCI memfinalisasi pengadaan 30 rangkaian kereta baru guna meningkatkan kapasitas angkut penumpang menyusul alokasi anggaran Rp5 triliun dari pemerintah.

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memfinalisasi rencana pengadaan 30 rangkaian kereta (train set) baru pada Senin (20/4/2026) untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang. Keputusan ini menindaklanjuti alokasi anggaran tambahan sebesar Rp5 triliun yang diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Vice President Corporate Secretary KCI, Karina Amanda, menyatakan bahwa proses kajian teknis bersama KAI dan pemerintah saat ini telah memasuki tahap akhir. Dilansir dari Detik Finance, langkah tersebut diambil sebagai upaya percepatan realisasi pemenuhan kebutuhan armada di wilayah operasional KCI.

"Ini memang kajiannya terus dilakukan dan ini sudah mendekati tahap final. Jadi baik dari sisi KAI, KCI, maupun pemerintah dalam proses persiapan untuk merealisasikan terkait dengan kebutuhan tambahan kapasitas angkut tersebut," kata Karina Amanda di Commuter Hall, Jakarta.

KCI saat ini tengah memetakan rute-rute prioritas yang akan menggunakan armada baru dengan stamformasi 12 (SF12). Penentuan rute tersebut bergantung pada kesiapan prasarana dan infrastruktur pendukung di lintasan pelayanan guna menunjang operasional kereta yang lebih panjang.

Meski proses pengadaan segera dimulai, manajemen KCI belum memberikan tanggal pasti selesainya seluruh rangkaian tersebut. Karina menegaskan bahwa operasional armada akan disesuaikan dengan perkembangan kesiapan teknis di lapangan secara bertahap.

Anggaran pengadaan ini sebelumnya telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto setelah menerima permohonan dari Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin. Pada pertemuan di Stasiun Tanah Abang Baru, November 2025, Presiden memutuskan menambah anggaran dari usulan awal Rp4,8 triliun menjadi Rp5 triliun.

Presiden Prabowo sebelumnya menjelaskan bahwa harga per rangkaian kereta diperkirakan mencapai US$ 9 juta atau sekitar Rp150 miliar. Penambahan alokasi anggaran tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan transportasi publik bagi masyarakat luas dapat terpenuhi dalam target waktu maksimal satu tahun.

Recommended