Banyak yang menganggap kebiasaan-kebiasaan sepele sebagai sesuatu yang aneh atau tidak produktif. Namun, tahukah Anda bahwa beberapa kebiasaan tersebut justru bisa menjadi penanda kecerdasan seseorang? Mulai dari begadang hingga melamun, sejumlah perilaku yang kerap dipandang sebelah mata ternyata memiliki kaitan erat dengan tingkat IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi.
Intelligence Quotient (IQ) adalah angka yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang secara relatif. Angka ini diperoleh dari berbagai jenis tes kecerdasan yang tersedia. Dahulu, skor IQ dihitung berdasarkan perbandingan antara usia mental dan usia kronologis seseorang, lalu dikalikan 100.
Anak berusia 10 tahun dengan usia mental 12 tahun akan mendapat skor IQ 120. Sementara itu, anak yang usia mentalnya baru setara 8 tahun akan memperoleh skor 80. Angka 100 ditetapkan sebagai nilai rata-rata, yaitu kondisi ketika usia mental seseorang sejajar dengan usia kronologisnya.
Robert J. Sternberg PhD, seorang pakar dari Cornell University, mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan seseorang untuk belajar dari pengalaman, beradaptasi dengan situasi baru, memahami konsep abstrak, serta memanfaatkan pengetahuan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Menariknya, sejumlah kebiasaan sehari-hari yang tampak biasa saja ternyata memiliki kaitan dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.
12 Kebiasaan Orang dengan IQ Tinggi
1. Meja kerja berantakan
Orang cerdas kerap diidentikkan dengan kerapian, tetapi eksperimen dari University of Minnesota menemukan bahwa orang yang bekerja di lingkungan yang tidak tertata justru menghasilkan ide yang lebih kreatif.
Menurut peneliti, Kathleen Vohs PhD, lingkungan berantakan mendorong seseorang untuk berpikir di luar kebiasaan dan melahirkan gagasan segar. Jonathan Wai PhD dari Duke University menambahkan bahwa orang kreatif cenderung tenggelam dalam pikirannya sehingga urusan kerapian menjadi prioritas terakhir.
2. Suka begadang
Studi dari London School of Economics and Political Science menemukan bahwa orang yang terbiasa tidur lebih larut cenderung memiliki IQ lebih tinggi.
Para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan evolusi manusia. Leluhur yang berani beraktivitas di malam hari membutuhkan tingkat kecerdasan lebih tinggi untuk bertahan. Malam hari yang sunyi juga dinilai cocok bagi para pemikir introvert yang butuh ketenangan untuk berkonsentrasi.
3. Sering mengumpat
Kebiasaan mengucapkan kata-kata kasar selama ini identik dengan kurangnya pendidikan. Timothy Jay PhD, pakar di bidang linguistik, menemukan bahwa orang yang mampu menghasilkan lebih banyak kata-kata tabu juga cenderung memiliki kosakata yang lebih luas secara keseluruhan.
Kefasihan verbal, termasuk dalam penggunaan kata-kata kasar, berkorelasi positif dengan kemampuan bahasa secara umum yang merupakan salah satu ciri kecerdasan tinggi.
4. Suka mandi air dingin
Sebuah studi dari Finlandia mencatat bahwa adaptasi terhadap air dingin berhubungan dengan berkurangnya rasa tegang dan lelah, serta peningkatan suasana hati dan daya ingat. Semua manfaat ini secara langsung mendukung fungsi otak dan produktivitas seseorang.
5. Mudah terganggu suara kunyahan
Penelitian dari Northwestern University menemukan bahwa orang dengan kemampuan berpikir kreatif yang tinggi cenderung lebih sulit menyaring informasi sensoris yang tidak relevan.
Kondisi ini disebut leaky sensory gating, yang membuat otak menyerap lebih banyak rangsangan dari sekitar. Meski terasa menjengkelkan, kemampuan ini justru membantu dalam mengintegrasikan beragam ide secara lebih kreatif.
6. Gemar mencoret-coret (doodle)
Menurut Penulis The Doodle Revolution, Sunni Brown, doodle adalah alat berpikir yang memengaruhi cara seseorang memproses informasi. Penelitian dari Inggris menunjukkan bahwa orang yang mencoret-coret sambil mendengarkan mampu mengingat 29 persen lebih banyak informasi dibandingkan yang tidak.
7. Sering mengkritik diri sendiri
Studi dari Cornell University tahun 1999 menemukan fenomena Dunning-Kruger effect. Orang yang kurang kompeten cenderung melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri. Sebaliknya, orang yang kompeten justru kerap meremehkan kemampuannya karena mereka sadar betapa luasnya pengetahuan yang belum mereka kuasai.
8. Suka melamun
Riset dari University of California menunjukkan bahwa peserta yang diberikan jeda untuk melakukan aktivitas ringan dan membiarkan pikiran mengembara ternyata mampu menyelesaikan tugas utama dengan lebih baik.
Para peneliti meyakini bahwa memberi otak semacam periode inkubasi melalui lamunan dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah.
9. Suka bicara sendiri
Penelitian dari University of Wisconsin dan University of Pennsylvania mengungkap bahwa peserta yang mengucapkan nama benda yang mereka cari dengan suara keras terbukti lebih mudah mengingatnya.
Peneliti, Gary Lupyan PhD, menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sarana yang dapat memperkuat persepsi dan proses berpikir seseorang.
10. Lebih nyaman menyendiri
Sebuah survei terhadap 15.000 responden berusia 18 hingga 28 tahun yang dilakukan oleh peneliti dari Inggris dan Singapura menemukan bahwa orang dengan IQ lebih tinggi cenderung tidak merasa lebih bahagia ketika sering bersosialisasi.
Para peneliti menduga ini berkaitan dengan gesekan evolusioner antara otak manusia dan lingkungan sosial modern. Orang yang lebih cerdas dinilai lebih mampu memusatkan perhatian pada tujuan jangka panjang.
11. Suka meditasi setiap hari
Meditasi selama 12 hingga 15 menit memberikan manfaat nyata bagi kecerdasan. Mengutip New England Journal of Medicine, banyak penelitian menunjukkan bahwa meditasi dapat meningkatkan fluid intelligence, yaitu kemampuan berpikir kreatif, inovatif, dan visioner.
Satu penelitian menemukan bahwa penggunaan brainwave training, salah satu bentuk meditasi, mampu meningkatkan skor IQ rata-rata hingga 23 persen, dengan efek yang masih terasa satu tahun kemudian.
12. Malas bergerak
Studi tahun 2016 dari Florida Gulf Coast University membagi 60 mahasiswa ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok pemikir dan bukan pemikir. Hasilnya, kelompok bukan pemikir jauh lebih aktif secara fisik dibandingkan kelompok pemikir.
Para peneliti menduga hal ini terjadi karena para pemikir sudah merasa cukup terstimulasi secara mental, sehingga tidak membutuhkan banyak aktivitas fisik untuk mengusir kebosanan.