Sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka setelah kereta api jarak jauh menabrak rangkaian KRL di perlintasan sebidang dekat Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.
Insiden maut yang terjadi sekitar pukul 20.53 WIB tersebut dipicu oleh mogoknya satu unit taksi di tengah rel, yang kemudian memicu kecelakaan beruntun antara moda transportasi rel tersebut.
Data terbaru mengenai jumlah korban dilansir dari Medcom disampaikan oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, pada Selasa pagi (28/4/2026) pukul 08.45 WIB.
Seluruh korban meninggal dunia telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi, sementara 84 korban luka dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, dan RS Siloam Bekasi Timur.
Manajemen perusahaan taksi Green SM membenarkan bahwa salah satu armada mereka terlibat dalam insiden di perlintasan sebidang tersebut dan menyatakan dukungan penuh terhadap proses investigasi pihak berwenang.
"Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung," tulis pernyataan resmi manajemen Green SM terkait keterlibatan armada mereka.
Andi (42), salah satu penumpang KRL yang selamat, menceritakan bahwa kereta yang ia tumpangi sedang berhenti sebelum akhirnya ditabrak dari arah belakang oleh kereta jarak jauh.
"Kejadiannya begitu cepat, kereta jarak jauh menabrak kami di KRL. Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita," ujar Andi saat memberikan keterangan di lokasi kejadian.
Pihak KAI telah mengamankan barang-barang milik penumpang di layanan lost and found dan mendirikan Posko Tanggap Darurat di Stasiun Bekasi Timur untuk melayani keluarga korban.
Petugas gabungan dari TNI, Polri, tim medis, dan pemadam kebakaran masih melakukan pendataan dan pembersihan di lokasi kejadian guna memastikan operasional jalur kereta kembali normal.