Krisis pasokan bahan bakar pesawat atau avtur mulai mengganggu jadwal penerbangan di kawasan Asia dan Eropa pada Kamis (7/5/2026) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu pemutusan jalur distribusi utama.
Penghentian ekspor melalui Selat Hormuz oleh Iran menjadi penyebab utama macetnya distribusi energi global dari Teluk Persia, yang sebelumnya merupakan pemasok terbesar bahan bakar jet ke pasar dunia. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), perang yang pecah sejak akhir Februari tersebut kini berdampak signifikan pada operasional maskapai internasional.
Ekspor bahan bakar jet global tercatat anjlok sebesar 30 persen menjadi 1,3 juta barel per hari pada April 2026, turun drastis dari angka 1,9 juta barel pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tajam ini dilaporkan oleh media ekonomi Detik Finance sebagai dampak langsung dari blokade kawasan Teluk.
Kawasan Eropa mengalami tekanan paling berat karena kehilangan sekitar 20 persen sumber kebutuhan avtur yang biasanya dipasok dari Timur Tengah. Kondisi serupa terjadi di Asia, di mana kilang-kilang di China, Korea Selatan, dan India kesulitan berproduksi akibat ketergantungan 90 persen minyak mentah mereka pada jalur Selat Hormuz.
"Ini seperti kecelakaan mobil dalam gerakan lambat," kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, sebagaimana dilansir dari CNBC dalam laporan Detik Finance. Smith menyoroti penurunan muatan avtur ke kapal tanker yang merosot hingga 50 persen menjadi 18,6 juta barel dalam sepekan terakhir.
Dampak ekonomi mulai dirasakan maskapai besar seperti Lufthansa yang terpaksa membatalkan 20.000 jadwal penerbangan jarak pendek hingga Oktober mendatang. Keputusan ini diambil guna menekan kerugian akibat biaya bahan bakar yang melambung tinggi di tengah keterbatasan stok.
Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga bahan bakar jet di Eropa telah menyentuh angka US$ 187 per barel per 1 Mei 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan harga dua kali lipat dibandingkan dengan harga pada tahun lalu.
CEO Chevron, Mike Wirth, menyatakan bahwa sinyal harga di beberapa wilayah telah mencapai titik ekstrem dan kekhawatiran utama saat ini adalah ketersediaan fisik pasokan. Menurutnya, masalah kekurangan stok ini diprediksi akan semakin serius dalam beberapa pekan mendatang.
Sebagai langkah mitigasi, Uni Eropa kini mengalihkan pencarian pasokan alternatif ke Amerika Serikat melalui kilang Valero dan Marathon Petroleum. Ekspor avtur dari AS ke Eropa dilaporkan melonjak hingga 400 persen menjadi 94.000 barel per hari pada April untuk menutupi celah pasokan yang hilang dari Timur Tengah.