Kompetensi berbahasa Inggris dinilai penting dalam membuka akses siswa madrasah ke pendidikan tinggi dan jejaring internasional. Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng British Council untuk meningkatkan kemampuan guru madrasah.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pada November 2025. Program pengembangan keprofesian guru Bahasa Inggris madrasah ini berlangsung selama delapan minggu, ditutup dengan lokakarya di Kemenag.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah konkret mewujudkan Asta Protas Kemenag dan mendukung Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris yang ditandatangani Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Keir Starmer pada Januari 2026.
Peran strategis guru madrasah tidak hanya membentuk generasi Muslim yang kuat agamanya, tetapi juga membuka akses pendidikan tinggi dan jaringan global. Hal ini menuntut kesiapan guru dalam menghadapi perkembangan zaman dan dinamika pendidikan internasional.
Kolaborasi Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah dan British Council diawali dengan pemetaan kompetensi untuk mengukur kemampuan pedagogik dan kemahiran bahasa Inggris guru MTs dan MA. Selain itu, dilaksanakan pula program percontohan Continuing Professional Development (CPD). Kedua inisiatif ini menjadi landasan program pengembangan guru ke depannya.
Summer Xia, Country Director Indonesia and Director Southeast Asia, British Council, menjelaskan bahwa 613 guru dari berbagai provinsi telah menyelesaikan program ini. Pelatihan daring yang terstruktur, didukung e-moderator dan sesi langsung mingguan, memastikan pengembangan profesional berkualitas tinggi dapat diakses oleh para pendidik.
Pendekatan berbasis data memberikan gambaran objektif mengenai kebutuhan pengembangan guru dan menjadi rujukan dalam perencanaan kebijakan selanjutnya.
Perubahan di Ruang Kelas
Selama delapan minggu, perubahan mulai terlihat dalam praktik pembelajaran. Guru mengadopsi pendekatan yang lebih berpusat pada siswa dan menciptakan interaksi kelas yang lebih aktif. Kepercayaan diri dalam berbahasa Inggris juga meningkat, berdampak pada partisipasi siswa.
Ni’Matus Zahroh, guru Bahasa Inggris dari Madrasah MTsN 15 Jombang, membagikan pengalamannya, “Kesempatan pengembangan diri bagi pendidik di madrasah belum banyak. Melalui program ini, guru Bahasa Inggris di madrasah bisa memberikan pengajaran yang menyenangkan bagi murid dan menginspirasi untuk terus belajar demi menghasilkan generasi yang beriman dan berakal,” tuturnya.
Menuju Skala yang Lebih Luas
Inisiatif ini menjadi fondasi pengembangan yang lebih luas. Meskipun jumlah peserta masih sebagian kecil dari kebutuhan nasional, model yang telah diuji membuka ruang untuk ekspansi dan penguatan berkelanjutan.
Pengembangan berikutnya diharapkan memperluas akses pelatihan dan mendorong terbentuknya komunitas belajar profesional di antara guru madrasah, sehingga menghasilkan dampak sistemik yang dapat direplikasi.
Summer Xia menambahkan, “Progres dalam skala seperti ini hanya dapat terwujud ketika seluruh mitra memiliki komitmen yang sama untuk membangun sistem pendidikan yang terukur, berdampak, dan siap untuk diadopsi secara nasional. Melalui kolaborasi ini, British Council berkomitmen untuk memperkuat kapasitas, mempercepat transfer pengetahuan, serta memastikan solusi yang tidak hanya efektif saat ini, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.”