Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi menetapkan April 2026 sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan. Inisiatif ini, yang diumumkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, menjadi penanda arah baru dalam peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April.
Mu'ti menyatakan bahwa mulai tahun 2026, peringatan Hari Kartini tidak lagi sekadar kegiatan simbolik. Menurutnya, esensi utama peringatan ini adalah untuk memberikan pemberdayaan dan ruang aktualisasi yang lebih luas bagi perempuan, termasuk afirmasi dalam memperkuat pendidikan.
“Alhamdulillah, ini menjadi arah baru dalam peringatan Hari Kartini tahun ini, yang sebelumnya identik dengan sanggul dan kebaya,” ujar Mu'ti dalam acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Jakarta, Rabu, 1 April 2026, seperti dilansir dari Medcom.
Meskipun mengakui pentingnya sanggul dan kebaya sebagai identitas budaya, Mu'ti menegaskan bahwa fokus kini beralih pada peningkatan kualitas hidup perempuan melalui pendidikan. Ia menyoroti masih banyaknya perempuan yang terkendala akses pendidikan akibat pernikahan dini dan keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, Kemendikdasmen mendorong penguatan gerakan literasi sebagai bagian dari upaya ini.
Dikutip dari Medcom, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menambahkan bahwa pemberdayaan perempuan harus berlandaskan kepedulian, bukan sekadar tugas administratif. “Kalau kita mengerjakan pemberdayaan perempuan hanya karena tugas, bawaannya capek. Tetapi kalau berangkat dari hati, apa pun tantangannya kita akan berupaya maksimal agar bisa diselesaikan bersama,” kata Arifah.
Peringatan Hari Kartini tahun ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas perempuan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan UMKM. Kolaborasi lintas kementerian ditekankan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, sebagai kunci penyelesaian isu-isu perempuan.
“Semua isu, termasuk isu perempuan, harus dikerjakan lintas sektor. Ini bukti bahwa kabinet bekerja tanpa ego sektoral untuk menjalankan agenda strategis Presiden,” jelas Pratikno, yang berharap pencanangan ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi perempuan.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, juga menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menguatkan literasi dan nilai kebersamaan bagi perempuan. Hal ini diharapkan dapat membentuk sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan kompetitif di masa depan. Pendidikan dasar dan menengah dianggap krusial untuk menciptakan generasi perempuan yang cerdas, kritis, setara, dan berdaya.
Selain itu, peran bahasa dan sastra dipandang penting dalam membentuk kesadaran, mengasah daya pikir kritis, dan merefleksikan kontribusi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa. Menurut Hafidz, momentum Hari Kartini harus dimaknai sebagai agenda pendidikan dan penguatan karakter bangsa yang substansial, bukan sekadar seremoni.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, Prof. Wardiman Djojonegoro, turut menyoroti kondisi pendidikan perempuan di Indonesia. Dalam acara yang sama, Wardiman memaparkan bahwa Indonesia masih menghadapi ketertinggalan signifikan dalam aspek pendidikan.
“Kita lihat buktinya, tetapi kalau kita lihat statistik maka ternyata masih banyak yang harus dikejar,” ujar Wardiman, sebagaimana dikutip dari Medcom.
Data dari World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pendidikan di Indonesia baru mencapai jenjang SMP. Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan standar minimum WEF untuk perempuan, yaitu tingkat SMA. Di sektor kesehatan dan keberlangsungan hidup, Indonesia berada di posisi ketujuh dari sebelas negara ASEAN.
Wardiman juga menyebutkan kesenjangan gender yang masih nyata pada empat kriteria WEF, termasuk partisipasi perempuan dalam angkatan kerja yang baru mencapai 61% dibandingkan laki-laki sebesar 84%. Selain itu, pendapatan perempuan tercatat 83% dari pendapatan laki-laki untuk standar pekerjaan yang setara.
Meskipun demikian, Wardiman mengapresiasi kemajuan hak-hak perempuan saat ini dibandingkan masa perjuangan Raden Ajeng Kartini. Gerakan pendidikan yang dulu dimulai secara swasta, kini didorong langsung oleh pemerintah. Ia berharap inisiatif Kemendikdasmen ini dapat mempercepat pencapaian kesetaraan gender di berbagai lembaga negara.
Rangkaian Kegiatan Bulan Pemberdayaan Perempuan
Selama bulan April 2026, Badan Bahasa Kemendikdasmen menyelenggarakan berbagai kegiatan edukatif bagi siswa dan guru. Kegiatan tersebut meliputi bimbingan teknis pendidikan kecakapan kerja dan kewirausahaan, bedah buku, lomba menulis cerpen dan esai, lomba video kreatif mendongeng, penyusunan buku antologi cerpen berbasis daerah, sayembara cerita anak Indonesia, produksi siniar bertema Kartini, serta penyusunan bahan ajar pemberdayaan perempuan.