Tim Underdog Liga Champions: Bodo/Glimt dan Kejutan Lain

Selain Bodo/Glimt, beberapa tim underdog pernah membuat kejutan di Liga Champions. APOEL hingga Monaco mencatatkan sejarah.

Liga Champions seringkali menyajikan kisah-kisah tak terduga, di mana tim-tim yang awalnya kurang diperhitungkan mampu mencetak sensasi. Salah satunya adalah Bodo/Glimt, klub asal Norwegia yang membuat kejutan di musim 2025/2026.

Sebelumnya tak banyak yang mengenal Bodo/Glimt sebelum menyingkirkan Inter Milan di babak playoff Liga Champions 2025/2026. Mereka menjadi buah bibir setelah mengalahkan Inter dalam dua pertandingan, baik di kandang maupun tandang.

Pada leg pertama, Bodo/Glimt menang 3-1. Kemudian, di leg kedua yang berlangsung di Giuseppe Meazza, mereka kembali mengalahkan Inter dengan skor 2-1. Agregat 5-2 mengantarkan Bodo/Glimt ke babak 16 besar, sebuah pencapaian yang tak terduga mengingat mereka bukan tim unggulan di awal kompetisi.

Selain Bodo/Glimt, ada beberapa tim lain yang juga pernah mencuri perhatian di Liga Champions. Berikut beberapa di antaranya, seperti dilansir Planet Football:

APOEL berhasil menembus perempat final Liga Champions pada tahun 2012, sebuah pencapaian yang luar biasa bagi tim asal Siprus. Mereka memuncaki grup yang berisi Zenit St Petersburg, Porto, dan Shakhtar Donetsk. Di babak 16 besar, mereka mengalahkan Lyon melalui adu penalti sebelum akhirnya dikalahkan Real Madrid di perempat final.

AS Monaco (2004)

Monaco pada tahun 2004 menciptakan sesuatu yang istimewa. Tim ini mampu mengubah yang tak mungkin menjadi mungkin. Dengan pemain seperti Fernando Morientes, Dado Prso, dan Ludovic Giuly, Monaco tampil impresif. Mereka menghancurkan Deportivo dengan skor 8-3, mengalahkan Real Madrid di perempat final, dan menyingkirkan Chelsea di semifinal. Sayangnya, mereka kalah dari Porto di final.

Deportivo La Coruna (2004)

Deportivo dikenal dengan julukan 'Super Depor'. Tim ini memiliki pemain-pemain seperti Diego Tristan dan Juan Carlos Valeron. Mereka bangkit dari kekalahan melawan Monaco untuk mencapai babak 16 besar dan mengalahkan Juventus. Di perempat final, mereka menghadapi juara bertahan AC Milan.

Setelah kalah 4-1 di San Siro, harapan tampak tipis. Namun, Depor menciptakan salah satu malam paling mendebarkan dalam sejarah sepak bola Eropa. Walter Pandiani, Valeron, dan Albert Luque membawa Depor unggul sebelum jeda, dan Fran memastikan kemenangan dengan golnya. Andrea Pirlo menggambarkan permainan Depor saat itu dengan sinis:

"Lawan kami bermain dengan kecepatan seribu mil per jam sepanjang malam, bahkan para pemain senior yang tidak pernah dikenal karena kemampuan mereka menggabungkan kecepatan dengan stamina. Yang paling mengejutkan saya adalah bagaimana mereka terus berlari hingga jeda. Semuanya, tanpa terkecuali."

Porto mengalahkan mereka di semifinal, tetapi kenangan akan penampilan gemilang Depor tetap abadi.

Borussia Dortmund (2013)

Pada musim 2012-2013, Dortmund yang berstatus juara Jerman dua kali berturut-turut, berada di pot terbawah. Grup yang berisi Real Madrid, Manchester City, dan Ajax tampak sulit, tetapi dengan manajer Jurgen Klopp, mereka melaju kencang. Empat gol Robert Lewandowski mengalahkan Real Madrid di leg pertama semifinal di Westfalenstadion. Sayangnya, Bayern Munchen menang tipis di final.

Ajax (2019)

Gol kemenangan Lucas Moura di menit-menit akhir semifinal di Amsterdam Arena sulit dilupakan. Ajax bermain dengan semangat dan kebebasan di bawah Erik ten Hag. Tim muda ini menghancurkan Real Madrid di Bernabeu di babak 16 besar dan mengalahkan Juventus di perempat final. Mereka seharusnya bisa mengalahkan Tottenham, terutama setelah memenangkan leg pertama di London dan unggul 2-0 di leg kedua. Ajax kemudian kehilangan pemain-pemain terbaik mereka.

Recommended