Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) gencar mendorong satuan pendidikan untuk mengadopsi budaya hemat energi. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan efisiensi energi di tingkat nasional. Sekolah diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan energi listrik secara lebih bijak.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti, seperti dikutip dari Medcom pada Rabu, 1 April 2026, menjelaskan bahwa upaya ini mencakup pengaturan penggunaan listrik, pemanfaatan maksimal cahaya alami, serta menumbuhkan kebiasaan ramah lingkungan di kalangan seluruh warga sekolah.
Penerapan budaya positif ini juga diperkuat melalui Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Inisiatif ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi para murid.
Sekolah diharapkan dapat membangun kebiasaan positif melalui Gerakan Indonesia ASRI. Beberapa contoh implementasinya adalah menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah secara efektif, melakukan penghijauan, serta memastikan penggunaan sumber daya secara efisien.
Mu'ti menambahkan, "Lingkungan sekolah yang aman dan sehat tidak hanya mendukung proses pembelajaran yang optimal, tetapi juga membentuk karakter murid yang peduli terhadap lingkungan dan kualitas hidup."
Sektor pendidikan dasar dan menengah, menurut Mu'ti, memiliki karakteristik layanan yang mengutamakan interaksi langsung dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran tatap muka tetap menjadi prioritas utama. Di samping itu, satuan pendidikan juga didorong untuk aktif berperan dalam mendukung efisiensi energi dengan membiasakan perilaku hemat dan ramah lingkungan di lingkungan sekolah.