Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) guna memperkuat ketahanan energi nasional pada Rabu (22/4/2026). Langkah ini diambil merespons potensi lonjakan adopsi mobil listrik pasca kenaikan harga BBM nonsubsidi dan krisis energi global.
Hingga Maret 2026, total investasi di sektor kendaraan listrik telah menyentuh angka Rp 25,674 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh keberadaan 14 perusahaan perakitan mobil listrik yang memiliki total kapasitas produksi sebesar 409.860 unit per tahun di Indonesia.
Dilansir dari Detik Finance, populasi kendaraan listrik nasional tercatat mencapai 358.205 unit. Angka tersebut didominasi oleh 236.451 unit sepeda motor listrik dan 119.638 unit mobil penumpang, serta didukung unit bus dan kendaraan komersial lainnya.
Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin, Setia Diarta, menyatakan bahwa perubahan preferensi masyarakat menuju kendaraan hemat energi menjadi sinyal positif transformasi industri. Transformasi ini dipicu oleh selisih harga yang semakin tipis antara mobil listrik dengan kendaraan bermesin internal.
Di sisi lain, regulasi pajak mulai mengalami penyesuaian melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Mulai 1 April 2026, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBNKB) sudah mulai dikenakan pada kendaraan listrik di tingkat daerah.
"Sebaiknya Pemda memberlakukan tarif pajak progresif. Contohnya, BEV di atas Rp 500 juta dikenakan tarif lebih tinggi, sedangkan di bawah itu sebaiknya rendah," ujar Andrea Suhendra, CEO Degree Synergy International, dalam diskusi di Kantor Kemenperin.
Andrea menilai skema pajak progresif penting untuk menjaga momentum penjualan agar tidak terjadi guncangan pasar yang berlarut. Meski ada pajak baru, pengeluaran operasional mobil listrik diklaim tetap lebih rendah dibandingkan biaya konsumsi BBM.
Sektor swasta turut merespons positif tren ini, salah satunya BYD Indonesia yang mencatatkan kenaikan penjualan sebesar 65 persen per Maret 2026. Perusahaan tersebut kini memegang pangsa pasar sebesar 41 persen di tanah air.
Head of PR & Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan, menegaskan komitmen perusahaan untuk membangun rantai nilai industri di Indonesia. Saat ini, jaringan dealer mereka telah menjangkau 84 titik di 48 kota di seluruh Indonesia.