Harga Avtur Melonjak 16 Persen Picu Tekanan Finansial Maskapai

Harga avtur melonjak 16 persen pada Mei 2026 di tengah pelemahan rupiah, mengancam konektivitas penerbangan nasional dan stabilitas ekonomi.

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) mencatat lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur sebesar 16 persen dalam kurun waktu satu bulan per Selasa (5/5/2026). Kenaikan signifikan ini terjadi secara merata di berbagai bandara utama, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.

Dilansir dari Detik Finance, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta untuk periode 1 hingga 31 Mei 2026 ditetapkan sebesar Rp 27.358 per liter. Angka ini mengalami kenaikan tajam dari harga pada bulan April 2026 yang berada di angka Rp 23.551 per liter.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyatakan bahwa kenaikan harga avtur dari Pertamina ini mulai berlaku efektif sejak 1 Mei 2026. Penyesuaian harga tersebut menambah beban berat bagi operasional setiap perusahaan penerbangan yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Selain masalah bahan bakar, industri penerbangan juga menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Per tanggal 4 Mei 2026, kurs dolar AS tercatat menyentuh angka Rp 17.425, atau meningkat sekitar 2,5 persen dibandingkan posisi awal April 2026 sebesar Rp 17.017.

Ketidakstabilan kondisi ekonomi ini dipicu oleh konflik geopolitik yang terus berlanjut di wilayah Timur Tengah. Situasi tersebut secara langsung memengaruhi fluktuasi harga komoditas energi global dan memicu penguatan mata uang dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Kondisi finansial maskapai penerbangan yang kembali tertekan dengan adanya kenaikan harga avtur dan kurs US Dollar, sehingga dapat mengganggu konektivitas perhubungan udara, sektor-sektor terkait penerbangan dan perekonomian nasional," kata Denon Prawiraatmadja, Ketua Umum INACA.

Lonjakan biaya operasional ini dikhawatirkan akan berdampak luas terhadap ekosistem industri penerbangan nasional maupun internasional. Finansial perusahaan yang terpuruk berisiko mengganggu kelancaran layanan transportasi udara yang menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah di Indonesia.

Hingga saat ini, pelaku industri masih memantau perkembangan situasi global guna menentukan langkah mitigasi selanjutnya. Fokus utama para pengusaha transportasi udara adalah mempertahankan kelangsungan operasional di tengah tingginya beban biaya bahan bakar dan volatilitas nilai tukar mata uang.

Recommended