Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik Picu Lonjakan Harga Gula Nasional

BPS mencatat kenaikan harga gula di 171 kabupaten dan kota pada April 2026 akibat melonjaknya biaya kemasan plastik di pasar domestik.

Kenaikan harga bahan baku plastik memicu lonjakan harga gula pasir di 171 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia hingga minggu ketiga April 2026. Fenomena ini terjadi akibat ketergantungan industri gula terhadap kemasan plastik yang mengalami fluktuasi biaya produksi cukup signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspansi wilayah yang terdampak kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula pasir dibandingkan periode sebelumnya. Dilansir dari Detik Finance, jumlah daerah yang mengalami kenaikan harga meningkat dari 153 menjadi 171 wilayah hanya dalam waktu satu minggu.

"Terkait dengan gula pasir tersebut, kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik, karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS pada Jumat (24/4/2026).

Berdasarkan analisis Badan Pangan Nasional (Bapanas), dari total 349 daerah yang dipantau, sebanyak 135 kabupaten dan kota mencatatkan harga gula yang melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP). Angka ini setara dengan 38,7 persen dari total wilayah pemantauan nasional.

Secara rata-rata nasional, harga gula konsumsi dalam sebulan terakhir mengalami kenaikan sebesar 1,94 persen. Harga bergerak dari angka Rp 18.412 per kilogram menjadi Rp 18.770 per kilogram pada posisi 20 April 2026.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pemerintah tengah mengupayakan stabilisasi pasokan bahan baku plastik. Koordinasi dilakukan bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mengatasi hambatan rantai pasok tersebut.

Pemerintah memproyeksikan tekanan harga akan mereda seiring dengan peningkatan produksi gula kristal putih domestik pada periode April ke Mei. Produksi diperkirakan melonjak drastis dari 58,3 ribu ton menjadi 276,4 ribu ton guna mengamankan stok di pasar.

Recommended